Lama sekali tidak posting. Banyak hal yang berubah.
duduk dihalaman 12:00
duduk dihalaman 09:53

Tidak. Saya tidak akan membahas IPDN sekarang. Sudah basi. Sudah banyak juga yang bahas. Saya cuma teringat masa-masa militer begitu
powerful dulu.
Militer a.k.a ABRI (kalau bahasa
underground pada masa itu biasa juga disebut "SOBRI") pernah menguasai hampir semua lini kehidupan. Hampir semuanya dimiliterkan juga. Mau jadi PNS saja, harus Latsarmil dulu. Sampai muncul anekdot terkenal soal "Kaki Terinjak".
Saya termasuk yang turut menikmati masa-masa itu. Ya, saya "Anak Kolong". Tidak pernah khawatir badan kelihatan kekecilan naik motor tanpa SIM. Apalagi kalau cuma sama Polsek dekat rumah :)
Tapi, itu dulu. Sekarang militer sudah tidak seberkuasa dulu. Tapi, saya heran, kok masih ada saja yang berusaha melestarikannya. Seperti kejadian yang saya lihat suatu pagi di depan Kantor Pusat Pegadaian seputaran Salemba-Kramat.
Satpam nya orang sipil. Apalagi pejabatnya. Tapi kok masih hormat tegap ala militer ketika mobil sang pejabat lewat?
Negeri yang aneh.
duduk dihalaman 07:44
Negosiasi yang Gagal
Kami baru menggunakan
asisten sesudah beranak tiga. Sangat terasa sekali manfaatnya memiliki asisten. Awalnya, banyak ketidakpuasan yang dirasakan istriku. Tapi, saya selalu berusaha agar bisa memakluminya, yang penting dia jujur dan bisa dipercaya, terutama untuk menjaga anak. Maklum, walaupun tidak bekerja kantoran, aktivitas da'wah istri sering menuntut untuk pergi keluar rumah. Apalagi ketika kemudian istri hamil anak keempat, semakin banyak ketergantungan kepada
asisten, yang kami panggil dengan Bibi. Bibi tinggal di kampung sekitar perumahan kami. Jam kerjanya dari pukul 7 pagi sampai sekitar pukul 14 siang. Bila istri ada keperluan keluar sampai sore, Bibi juga menunggu dan menjaga anak sampai istri pulang.
Tapi, beberapa hari lalu, Bibi meminta berhenti, karena cucunya yang masih kecil dititipkan kepadanya. Berat sekali melepasnya. Istri sudah mau melahirkan, serta agak susah mencari
asisten yang baru dan cocok. Tapi kami tidak bisa menahan, apalagi Bibi menawarkan akan mendatangkan pengganti.
Benar, Bibi membawa pengganti. Tapi, setelah dicoba dua hari, istri merasa kurang cocok, selain itu juga gaji yang diminta agak tinggi. Akhirnya tidak jadi mempekerjakan
asisten yang dibawa Bibi.
Setelah itu, ada yang menawarkan
asisten yang lain. Yang menawarkan
asisten tetangga belakang rumah, yang kami percaya pada orangnya. Sambil berharap mudah-mudahan yang ini cocok, istri membuat janji untuk bertemu sang calon
asisten itu esok harinya.
Keesokan hari, seperti biasa kesibukan dimulai dengan kehebohan ketiga kurcaci ajaib kami diwaktu bangun tidur. Saat itu saya sudah pergi kekantor. Para kurcaci itu, terutama si Dede' Aqil, biasa mengawali hari dengan mengacak-acak rumah; membongkar buku dan/atau mainannya, setelah minum susu baru mandi. Setelah itu si Kakak 'Iffah biasa bangun langsung mandi. Belum sempat memakaikan minyak kayu putih, bedak, pakaian Dede' Aqil, Kakak 'Iffah sudah minta dihandukin, dan pada saat yang bersamaan Aa Faqih bangun langsung pipis di kamar mandi. Ditengah kehebohan itu, datanglah sang calon
asisten, dan diterima istri di teras, karena rumah masih berantakan bak kapal terhempas ombak kecil-kecilan.
Baru mulai ngobrol-ngobrol dengan sang calon
asisten, tiba-tiba Kakak 'Iffah berteriak dari kamar minta dicarikan singlet, bersahut-sahutan dengan suara Aa Faqih dari kamar mandi minta dicebokin. Belum habis teriakan-teriakan itu, Dede' Aqil keluar menyusul istri ke teras dalam keadaan telanjang, sembari senyum-senyum iseng. Tidak lama, negosiasi dengan sang calon
asisten berhenti dengan hasil yang dapat ditebak: tidak jadi.
Tiga kurcaci ajaib memang mantap, heheheh...
duduk dihalaman 08:05

Seperti biasa, bersantai bersama keluarga selepas Isya adalah pilihan terbaik untuk melepas kepenatan setelah beraktivitas seharian. Bercanda, bermain, dan tukar bicara ringan. Seperti semalam, pembicaraan ringan sampai ke cita-cita. Awalnya, kakak mengungkapkan keinginannya untuk menjadi dokter. Ditanya ulang pun jawabnya tetap sama:
"Ingin jadi dokter."
"Dokter yang shalihah?", saya coba mengarahkan.
"Heeh."
Mantap sekali jawabnya. Sekarang giliran Aa.
"Aa kalau besar mau jadi apa?"
"Jadi Betmen" tak kalah mantap jawaban Aa.
"Loh, malu kan A, Betmen pake celana dalemnya diluar" saya coba mempengaruhi.
Tapi, si Aa bergeming,
keukeuh ingin jadi Betmen. Akhirnya saya nyerah,
"Aa jadi Betmen yang shalih ya?"
"Heeh" jawabnya mantap.
Yah, namanya juga anak-anak :).
Gambar dari
sini.
duduk dihalaman 10:19

Sudah bukan rahasia lagi, memperoleh SIM di Indonesia bukan berdasarkan keterampilan dan pengetahuan, tapi berdasarkan uang. Siapapun, walau tidak bisa mengendarai motor (mobil) bahkan anak kecil, asalkan memiliki uang, bisa mendapatkan SIM dengan mudah. Tidak heran pemilik SIM melimpah ruah seiring dengan melimpah ruahnya kendaraan yang membikin macet jalanan.
Sebaliknya, yang mendapatkan SIM dengan prosedur yang benar, walau ada, tapi tidak sebanding dengan yang lewat jalan pintas. Indikasi ini saya dapat ketika saya membuat SIM di Polwiltabes Kota B dulu. Saya ikuti semua tahapan, tapi ketika tahap akhir, untuk difoto, saya masih harus antri lama sekali, hampir seharian. Padahal, yang tes bareng sehari sebelumnya tidak sebanyak itu, sedikit malah. Malah kalau dilihat dari papan pengumuman yang lolos tes tulis saja (belum tes praktek), termasuk yang hari2 sebelumnya, tidak sebanyak itu. Sempat juga ketemu teman ketika antri foto, dia datang lebih belakang dari saya tapi foto duluan, dia mengaku lewat 'jalan pintas'.
Padahal, kalau prosedur pembuatan SIM dilakukan dengan benar, akan ada beberapa keuntungan (keuntungan yang benar tanpa tanda kutip, yang berarti kerugian buat oknum):
1. Mengurangi angka kecelakaan, karena hanya orang2 yang memiliki keterampilan dan pengetahuan lalu lintas saja yang lolos. Ketika saya melakukan tes tulis, ternyata tidak semuanya lulus. Ketika tes praktek, lebih banyak lagi yang tidak lulus. Ketika tes praktek dulu, saya memperoleh no. urut 4. Semua yang tes sebelum saya dinyatakan tidak lulus. Dua nomor setelah saya pun tidak lulus semua. Setelah itu tidak saya saksikan lagi. Esoknya, sambil menunggu giliran di foto, Dari 6 peserta tes yang saya saksikan, hanya satu yang lolos. Ternyata, banyak yang tidak lulus dari pada yang lulus.
2. Menghambat laju pertumbuhan pengemudi, karena untuk mendapat SIM tidak lah semudah sekarang, seperti bisa dilihat pada paparan diatas.
3. Efek berikutnya adalah akan mengurangi laju pertambahan kendaraan di jalan, karena laju jumlah pengemudi juga tertahan, yang akan mengurangi kemacetan dijalan. Selain karena itu, juga laju pertumbuhan kendaraan yang berasal dari oknum aparat juga akan tertahan, karena aparat berpangkat setingkat Serma kalau di ketentaraan (kalau polisi apa ya?), tidak akan mungkin punya Kijang Innova kalau mengandalkan gaji saja. Itu juga akan mengurangi jumlah kendaraan roda 4 dijalan (karena kalau dari gaji saja mungkin hanya akan memiliki roda 2, yang tidak memakan space sebanyak roda 4) :-).
Jadi, apabila sekarang muncul keruwetan lalu lintas, jangan lah langsung dituduh pengendara (terutama bikers) yang salah. Benahi dulu prosedur aparat, baru atur kami!!
Salam damai dari seorang Biker, yang mengendarai motor bukan sekedar untuk alat transportasi, tapi karena memang mencintainya.
Piss!!!
Gambar dari
sini.
duduk dihalaman 08:08
FatwaFatwa Dewan Syari'ah sudah keluar. Diputuskan 'Idul Adha jatuh hari Sabtu, 30 Desember 2006, sedangkan Shalat 'Ied dilaksanakan hari Ahad, 31 Desember 2006.
Fatwa ini tidak perlu ditafsirkan lagi. Fatwa sendiri sudah merupakan hasil ijtihad, yang seyogyanya, bagi yang sudah terikat, harus mematuhinya selama tidak melanggar aturan-aturan syari'at. Sekali lagi, tidak ada penafsiran lain, kecuali ada udzur yang syar'i. Konsiderannya pun sudah jelas.
Selamat Hari Raya 'Idul Adha, kapanpun Anda melaksanakannya.
duduk dihalaman 11:00
Lembur, Halah!
Seperti biasa. Akhir tahun adalah waktu untuk ngelembur. Begadang sampai malam. Menanti laporan yang tak kunjung datang. Sudah pukul dua belas malam. Tak sabar menanti. Telepon saja. Cari nomor telepon kantor itu. Pencet nomor. Tidak diangkat. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Cari nomor lain. Tak kunjung diangkat. Berkali-kali. Untung ada teman yang pernah bertugas disana. Telepon HP pegawai sana. Ternyata, pegawai sana sudah pulang semua. Tanpa konfirmasi.
Halah! Ngapain saya nunggu??
Gambar dari
sini.
duduk dihalaman 23:51
Beranak Empat
<img src="http://benjaminsternke.typepad.com/photos/family/4kids.jpg" width=200>
Bagaimana rasanya beranak empat? Insya Allah, sekitar lima bulan lagi saya akan merasakannya :) Do'akan saja.
Gambar dari sini.
duduk dihalaman 05:18
Nama Saya Ali
Penat rasanya, hanya dalam dua hari bepergian Kupang-Atambua PP. Setiba di Hotel Astiti Kupang, pukul sepuluh malam, langsung menyegarkan badan. Siraman air hangat di tubuh mampu meluruhkan sedikit penat.
Selesai mandi, kok air di WC tidak berhenti mengalir ya? Mau didiamkan, kok perasaan tidak tenang ya? Mubazir. Segera menghubungi resepsionis.
Tak lama kemudian datang seorang teknisi. Tubuhnya tinggi, dengan wajah ramah seperti orang Kupang kebanyakan yang saya temui dua hari ini. Setelah sedikit mengotak-atik, teknisi itu berpamitan.
Sebelum teknisi itu keluar, saya sempatkan menanyakan arah kiblat. Tiba-tiba, raut wajahnya yang ramah bertambah cerah. Dengan suara yang bersemangat dia tunjukkan arah kiblat. Setelah itu dia mengulurkan tangannya seraya memperkenalkan dirinya, "Nama saya Ali."
Masih sedikit terpana, saya sambut uluran tangannya, tanpa sempat membalas apapun, kecuali hanya seulas senyum di bibir. Belum sempat saya bersuara, dia sudah berpamitan seraya mengucapkan salam, "Assalaamu'alaikum." Suaranya mantap dan jelas.
Ah, Ali, maafkan saya yang tidak sempat membalas kecuali senyuman. Mudah-mudahan Allah menjadikanmu tetap istiqamah dalam keimanan.
Selamat menunaikan ibadah Ramadhan.
Gambar dari http://www.starkelectronic.com/ecltk.htm
duduk dihalaman 08:52