Halaman Mungil Penuh Cinta dan Harap

Sebuah halaman dapat memperindah sebuah rumah, begitu juga sebaliknya, halaman dapat membuat rumah menjadi tampak buruk. Halaman ini diharapkan akan memperindah sebuah rumah mungil yang damai dengan cinta dan harapnya. Cinta yang bersumber dan didedikasikan pada DIA yang penuh cinta. Harap akan abadinya cinta itu hingga di jannah NYA kelak.

Detak kalA


Bahagia di halamaN

Saya, seorang manusia biasa diawal tiga dasawarsa yang dipanggil abi oleh anak-anak yang lucu: afifah hamasatunnisa, yang disebut dan menyebut dirinya dengan kakak atau iffah, lahir di bogor 4 desember 2001, ahmad alfaqih yang dipanggil Aa' atau faqih, lahir di bogor 13 april 2003, Aqil Abdurrahman, lahir di bogor 23 Januari 2005, yang menyebut dirinya sendiri ,dan kami ikuti, dengan sebutan Baba, serta Ahmad Yasin, lahir di Bogor, 10 Januari 2005, yang biasa kami panggi Acin atau Dede'. Beristrikan seorang wanita shalihah yang dipanggil ummi oleh kedua orang anaknya.


Setetes embuN

by wdcreezz.com

Nama :

Email/URL :

Kata :



Halaman tetanggA

puji balq gre lies rahman ihsan dee ami viTa adhi abu abdurrahman tyas iinanto hendra singarinjani otty diah assa_solo arifiani braunschweiger swasmi t.w. iman bril linda hidayat nikeyudi keluarga izza uyet bagas atta abhiray dey dita *)Iin adionggo ochan aisya hanum ARS dina erwin hanan ine

Embun segaR

Keajaiban Al-Qur'an Pusat Konsultasi Syariah Partai Keadilan Sejahtera Pusat Informasi Palestina Tempo Interaktif Detik Hidayatullah Media Indonesia Republika Era Muslim

Obrolan tetanggA


Kebun bungA

September 2003
November 2003
January 2004
February 2004
March 2004
April 2004
May 2004
June 2004
July 2004
August 2004
September 2004
October 2004
November 2004
December 2004
January 2005
February 2005
March 2005
May 2005
June 2005
September 2005
January 2006
February 2006
March 2006
April 2006
May 2006
September 2006
December 2006
January 2007
February 2007
May 2007
June 2009
May 2011

Pencinta alamI

Free Web Page Hit Counters
Sejak 11 Mei 2005



Tukang kebuN

 Blognya Indonesian Muslim Blogger�E BlogFam Community

27 February 2004


Ketika Sang Ustadz Mempermalukan Amerika Serikat

Bermula dari dimasukkannya nama LP2SI Al-Haramain kedalam daftar gabungan Organisasi Teroris dan Pendukung Teroris PBB No. 1267 berdasarkan usulan pemerintah Amerika Serikat, Dr. Hidayat Nur Wahid, sebagai ketua LP2SI Al-Haramain yang juga Ketua Umum PK Sejahtera, langsung meminta Amerika Serikat untuk mencabut yayasan yang beliau pimpin itu karena ternyata bukan merupakan cabang dari lembaga dengan nama serupa di Arab Saudi yang telah lebih dulu dimasukkan kedalam daftar. Hanya karena kesamaan nama, sekali lagi kesamaan nama, negara sebesar AS bisa melakukan kecerobohan seperti itu. Singkat cerita, kemarin Dubes Amerika bertemu dengan Dr. Hidayat Nur Wahid di Hotel Hilton, dan pemerintah Amerika Serikat mengakui kesalahannya serta dalam pekan ini akan meminta PBB untuk mencabut nama LP2SI Al-Haramain dari daftar Organisasi Teroris versi PBB, walau masih enggan minta maaf (biasa, kearoganan AS).

Dalam wawancara dengan SCTV kemarin, saya melihat sosok beliau yang sudah semakin matang sebagai seorang negarawan. Jawaban-jawaban beliau merupakan perpaduan dari kecerdasan, ketegasan, dan keberanian, tapi tetap dalam batas-batas kesantunan. Perpaduan yang jarang dimiliki oleh negarawan di Indonesia. Kecerdasan terlihat dalam jawaban-jawaban yang argumentatif dan tidak membiarkan opini penanya untuk menjebak beliau. Ketegasan dan keberanian diperlihatkan dengan tetap mempertahankan izzah dan tidak minder pada negara sebesar AS. Kesantunan beliau perlihatkan dari cara beliau bersikap dan bertindak yang tetap tidak melecehkan lawan bicara beliau. Saya jadi ingat, Eep Saefuloh Fatah pernah mengatakan bahwa negarawan yang baik itu tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam. Pada saat itu beliau memberikan contoh ibu itu yang terlalu banyak diam, tidak bicara ketika perlu bicara, dan bapak itu yang terlalu banyak bicara, semuanya dikomentarin (maaf, karena alasan etis nama ibu itu dan bapak itu tidak saya sebutkan).

Pertemuan pertama saya dengan Dr. Hidayat Nur Wahid terjadi pada tahun 1994, ketika beliau menjadi narasumber pada Seminar Pembentukan Rumah Tangga Islami yang diadakan oleh masjid kampus. Saat itu beliau diperkenalkan sebagai seorang Doktor Aqidah yang baru saja menyelesaikan studinya di Madinah. Setelah itu, saya masih sering mendengar nama beliau dalam berbagai ceramah, dialog, tabligh akbar, dan even-even lain. Setelah saya pergi ke Palopo, Sulsel, karena keterbatasan informasi, saya kurang mendengar nama beliau. Tapi kemudian nama beliau muncul kembali ketika Partai Keadilan dideklarasikan tahun 1998. Pada kepengurusan pertama itu beliau menjabat sebagai Ketua Majelis Pertimbangan Partai. Hingga kemudian beliau menduduki jabatannya sekarang ini.

Kemarin, saya lihat, sosok seorang negarawan, yang saya rasa kalau semua orang mengenalinya lebih jauh, akan mengatakan beliaulah yang dibutuhkan negara ini. Betulkah? Wallaahua'lam, walaupun saya sadar ini subyektif sekali.

duduk dihalaman 07:28


26 February 2004

Pernahkah kalian merasa dicampakkan?

duduk dihalaman 07:48


24 February 2004

Berbagi Masalah

Banyak orang mengatakan, tidak baik memendam masalah. Banyak orang yang mencari teman sebagai tempat curhat ketika ada permasalahan yang cukup berat. Saya tidak sepenuhnya menolak pendapat seperti itu dan tidak juga menerima sepenuhnya. Entah mengapa, saya bukan termasuk orang yang suka bercerita kepada orang permasalahan yang saya hadapi. Bahkan, sampai ada seorang teman yang menyangka hidup saya sama sekali tidak ada masalah, karena hari-hari saya tidak pernah berubah. Hal ini baru saya sadari setelah menikah. Jeleknya, kepada istripun saya tidak pernah berbagi masalah. Entah, ini baik atau tidak, saya cenderung untuk melupakan masalah. Andaikata saya terpaksa harus berbagi, saya lebih memilih untuk berbagi cerita kepada DIA Yang Maha Mendengar.

Tapi, bukan berarti saya tidak bisa mendengar masalah orang, saya selalu siap menerima curhat kawan. Tapi, jangan lupa, kalau bisa jangan cuma berbagi masalah, tapi juga berbagi meja untuk makan siang.

-------------------------------

Memahami hijrah Rasulullah SAW. untuk kehidupan esok yang lebih baik. Selamat Tahun Baru Hijriyah 1425 H.

--------------------------------

duduk dihalaman 10:54


19 February 2004

World Press Photo of The Year 2003



Ini adalah foto terbaik World Press Photo tahun 2003.
Sebuah foto yang memperlihatkan seorang tawanan tentara AS dipinggiran Najaf, Iraq. Kepalanya ditutup plastik hitam sambil memeluk dan menenangkan anaknya yang berusia sekitar 4 tahun diatas padang pasir yang kering dan disinari sinar matahari yang terik dan menyengat. Jelasnya bisa lihat disini

Saya tidak malu mengakui bahwa saya menangis melihat foto ini, seraya berharap Allah Al-Aziz memberikan balasan yang setimpal kepada orang-orang biadab yang melakukan kekejaman ini

duduk dihalaman 16:01


18 February 2004

Balada Rumah 2

Kami sangat menikmati masa2 pengantin baru kami di rumah ini. Ehm…Masa pengantin baru bagi kami adalah masa-masa pacaran dan saling mengenal untuk memahami. Kenalan? Ya, sosoknya saja baru dapat saya perhatikan dengan jelas seusai walimatul ursy (resepsi) pernikahan kami. Sebelumnya, dia adalah sosok yang sama sekali tidak pernah melintas dalam kehidupan saya. Sosoknya baru pertama kali saya lihat pada saat taaruf (perkenalan), dengan jarak 2 meter di depan, tampak samping lagi.
Disini juga kami merasakan sebuah cobaan, ketika kandungan yang sudah memasuki bulan keempat divonis dokter sebagai mola, yang menyebabkan kami harus bolak-balik menjalani proses pengobatan ke Makassar, yang menguras habis tabungan kami, sehingga kami harus mencari rumah yang lebih murah ketika masa kontrak kami dirumah ini sudah habis.
Untunglah seorang kawan memberitahu kalau rumah disebelahnya akan dikontrakkan. Segera kami kesana dan bertemu pemilik rumah, seorang nenek tua yang baru ditinggal mati adiknya, yang membuat kami tidak tega untuk menawar harga yang ditawarkan. Jadilah kami pindah ke rumah mungil ini, dengan kontrak setahun yang hanya 500 ribu! (kalau harga segini masih ditawar juga sih kebangetan..:D).
Segera kami melakukan beberapa pembenahan dirumah ini. Kamar tidur kami cat ulang. Begitu juga kamar mandi, dengan memberikan sentuhan yang lebih cerah, Lantai semen yang kusam kami sikat dan beri semir lantai, hingga licin. Sambungan televisi kabel pun langsung kami pasang setelah membayar uang pendaftaran yang didiskon 40% karena kami kenal bendaharanya. Sebelumnya, dirumah lama, kami hanya bisa menyaksikan TVRI, karena tidak ada sambunga tv kabel (benar2 kabel berseliweran) dan untuk menangkap stasiun televisi swasta harus memakai antenna parabola. Dengan tv kabel ini kami bisa menerima semua stasiun televisi swasta plus HBO dan Star Sports. Lumayanlah, dengan iuran 15 ribu sebulan, daripada beli parabola sendiri.
Baru dua belas hari kami menempati rumah ini, baru dua hari tv kabel tersambung, dan masih ada dua kardus barang yang belum dibongkar, datanglah sebuah berita yang dulu sempat sangat saya harapkan. Sebuah telepon dari seorang kenalan di sore itu memberitahu bahwa kami semua termasuk dalam rombongan mutasi nasional, menyusul 2 orang kakak kelas kami. Saya dan dua orang lain mutasi ke Bandung (iya, Bandung, akhirnya pulang ke Bandung lagi…), sementara lima orang yang lain ke Jakarta. Berita ini kami sambut dengan perasaan campur aduk. Senang karena akhirnya bisa pulang ke Bandung lagi (saya sebetulnya sudah hampir kehilangan harapan untuk bisa pindah, sementara istri, tidak ada halangan yang memberatkannya pindah, karena kedua orang tuanya sudah tiada) tapi juga capek karena pindah rumah kemarin belum lagi hilang.
Jadilah, kami beres-beres lagi. Memilah-milah barang, mana yang akan dibawa pindah, mana yang akan diberikan orang, dan mana yang akan dijual. Akhirnya, kami paketkan pindah tujuh kardus besar barang.
Di Bandung, kami tinggal dirumah orang tua saya, dan tetap menempati kamar kecilku. Semenjak pindah ini kami punya komitmen untuk beli rumah, walau kecil. Sempat kami gerilya, menyerap semua informasi soal rumah di Bandung, menelepon semua developer, sampai survei ke daerah terpencil-cil-cil, yang kata sebuah developer adalah bakal lokasi perumahan yang akan mereka bangun.
Tapi, sebuah kabar lain membuat kami mengurungkan niat membeli rumah di Bandung. Reorganisasi instansi yang menyebabkan kantor saya akan pindah ke Jakarta sudah mendapat lampu hijau. Berarti tidak lama lagi kami harus pindah lagi ke Jakarta. Tapi, disamping itu, ada berita yang menggembirakan, kami semua akan difasilitasi untuk membeli sebuah rumah dengan harga khusus dan uang muka yang ringan.
Singkat cerita, kamipun mendapat rumah mungil, type 27, dipinggiran Bogor, yang strategis. Bayangkan, dari pintu tol jagorawi hanya 400 meter sudah sampai gerbang perumahan, 1 kilometer sudah sampai dirumah. Untuk kekantor sudah disediakan bus jemputan.
Disini, kami merasakan kenikmatan menempati rumah sendiri dengan tetangga-tetangga yang menyenangkan. Alhamdulillah, tiada putus-putusnya kami panjatkan syukur kepada Sang-Kekasih, yang begitu banyak melimpahkan karunia kepada kami.
Begitu betahnya kami disini, sampai saya pun memilih untuk bolak-balik sekitar 100 km sehari dengan motor tua, ketika kembali kebangku kuliah.
Sekarang kami sekeluarga sudah berbahagia tinggal di rumah kami ini, yang ketika ada rizki sudah kami renovasi sedikit, dan sangat tidak berharap untuk pindah-pindah lagi. Semoga Allah memberikan yang terbaik bagi kami.

duduk dihalaman 11:01


Masalah

Seorang kawan pernah mengatakan:

Tidak akan pernah ada masalah kalau tidak ada yang dipermasalahkan...

benarkah?

duduk dihalaman 09:54


16 February 2004

Sindrom Anak Sulung Perempuan

Saya anak keempat dari lima bersaudara. Kakak saya yang tertua seorang perempuan. Yang menonjol dari mbak yang satu ini adalah kerajinannya dalam membersihkan dan melakukan urusan-urusan rumah lainnya. Pagi sudah sapu halaman dan rumah. Ini yang dia lakukan semenjak masih sekolah sampai sudah bekerja. Pulang kerja masih sempat cuci piring malam sambil mengisi penuh bak dan ember. Sepekan sekali, atau kalau dia rasa sudah kotor walau belum sepekan, dia sempatkan untuk menggosok kamar mandi. Rupanya sifat rajin ini ada juga pada tetangga saya, anak tertuanya yang juga perempuan memiliki sifat rajin yang sama.
Kebetulan, anak saya yang tertua, kakak, perempuan juga. Semenjak kecil sudah terlihat bakat rajinnya. Dia selalu mengikuti ummi bekerja. Apapun yang dilakukan ummi, pasti dia ikuti. Hampir setiap hari dia berlagak membuatkan bubur untuk adek, memasak, cuci piring, cuci baju, dll. Kalau dia sedang bermain dengan sepupu-sepupunya yang lelaki semua, kemudian melihat sapu, maka dia akan segera menyapu halaman, sementara sepupu-sepupunya bermain. Bahkan ketika berkunjung kerumah kerabat, yang dilakukan adalah mengambil tissue dan mengelap semua kursi disana. Sekarang, dia mengklaim diri sebagai ibu teletubbies. Setiap sore atau malam hari dia minta diambilkan gendongan dan berlagak menggendong sambil menidurkan boneka teletubbiesnya dengan lagu yang biasa dinyanyikan ummi:

Cepat tidur buah hati ummi
cepat tidur pelita hatiku
cepat besar jadi anak shalihah
tumpuan hati pelipur lara


dengan nada suaranya yang menggemaskan.

Benarkah sifat rajin ini terjadi pada semua anak sulung yang perempuan? Mungkin ada yang berniat melakukan penelitian, dan barangkali nanti akan ada istilah Sindrom anak sulung perempuan.

duduk dihalaman 10:51


13 February 2004

Republik Ayam

Disebuah galaksi, yang jaraknya triliunan tahun cahaya dari galaksi kita, ada sebuah planet yang mirip dengan planet bumi. Planet itu bernama Planet Kebon Binatang. Ya, semua negeri yang ada di planet itu dinamai dengan nama binatang.
Disana, ada sebuah negeri yang bernama Negara Republik Ayam. Dahulu negeri ini bernama Republik Burung Gagah. Dahulu juga negeri ini memiliki sumber alam yang melimpah ruah dan disegani oleh negeri-negeri lain. Tapi, ketika negeri ini dipimpin oleh pemimpin-pemimpin yang korup, habislah sumber alam negeri ini. Yang tersisa, dan menjadi kehidupan negeri ini tinggallah ayam. Ayam berarti kehidupan.
Penduduk negeri ini sudah lama mafhum, keadilan sudah lama mati di negeri mereka. Hukum hanya bisa bertindak tegas terhadap orang-orang kecil. Seperti seorang maling yang mencuri seekor ayam karena kepepet, dia bisa diganjar hukuman bertahun-tahun penjara setelah dipermak dulu di kantor keamanan. Tapi, penduduk ini masih mengharapkan adanya rasa keadilan, ketika seorang pembesar negeri menggelapkan 40 milyar ekor ayam dari gudang negara. Mereka berharap rasa keadilan masih dimiliki para pengadil dinegeri mereka, sehingga bisa memberikan sedikit kesejukan.
Tapi, harapan mereka musnah ketika pembesar negeri itu dibebaskan. Ternyata, rasa keadilan pun sudah tidak ada. Rasa itu sudah mati. Penduduk Republik Ayam sudah kehilangan harapan karena para pembesar negeri sudah benar-benar mati rasa.
Penduduk Republik Ayam kini menjadi faham mengapa para pemuda negeri, yang bersemangat mengembalikan kebesaran Republik Burung Gagah menyerukan:

Potong Satu Generasi!!!

Ya, potong satu generasi yang sudah mati rasa, sebelum generasi itu membusuk dan menjalar keseluruh negeri.

Bangkit!!!
Lawan!!!
Hancurkan Tirani!!!


Tirani yang dikawal oleh preman-preman berseragam. Yang selalu bertindak brutal kepada para pemuda negeri yang menginginkan kembalinya Republik Burung Gagah!

Mari kita berdo’a dan berharap kepada Allah Yang Maha Adil dan Kuasa, agar kejadian di Republik Ayam tidak terjadi di Republik Indonesia tercinta ini…

duduk dihalaman 07:58


11 February 2004

Kemarin, sepulang kantor, saya dapati ade dengan bibir sedikit lebih bengkak dari biasanya (baca: jontor). Rupanya, ade’ habis mencium lantai karena terpeleset ketika mengejar bola.
Setelah melampiaskan kerinduan pada ade, saya mencari kakak. Rupanya dia sedang berbaring dikamar. Saya lihat, dahinya agak sedikit tidak rata (baca: benjol). Kakak baru saja sukses terjun bebas dari atas meja. Dan, seperti biasanya, kakak memperlihatkan ketabahan yang luar biasa.
Kalau ditanya, apakah saya khawatir melihat kondisi mereka seperti itu? Sejujurnya, saya katakan tidak. Mungkin, bisa jadi, karena saya tidak melihat langsung kejadiannya. Mungkin juga, bisa jadi, karena mereka tidak memperlihatkan kesusahan karena kondisi itu. Mereka masih asyik terus bermain setelah itu, bahkan sampai kami orang tuanya tertidur terlebih dahulu. Kalaupun dimintai komentar, paling saya katakan ah, itu hal biasa dalam revolusi.

Syafakumallaah, semoga Allah memberikan kesembuhan kepada kalian. Kalau main hati-hati yaa.

duduk dihalaman 11:32


10 February 2004

Setiap mu'min yang memahami dan menghayati hakikat kehidupan pasti akan menempuh jalan kebahagiaan abadi disisi Allah SWT. Ia akan mendekat, berlari, dan terbang menuju keridhaan-Nya. Fafirruu ilallaah (QS. Adz-Dzariyat : 50). Dan setiap al-akh yang didalam relung hatinya terhunjam keyakinan bahwa kematian itu kepastian yang cuma terjadi sekali, maka ia akan memilih seni kematian yang paling mulia di sisi Allah. Imam Syahid Hasan Al-Banna, rahimahullah, mengungkapkan bahwa umat yang dapat memilih seni kematian dan memahami bagaimana mencapai kematian yang mulia, maka pasti Allah berikan kepada mereka kemuliaan hidup di dunia dan kenikmatan abadi di akhirat (Risalah Jihad - Majmu'ah Rasail Al-Banna).

Dicuplik dari Seri Taujihat Ri'ayah Ma'nawiyah Kader PK-Sejahtera 1424 H.

duduk dihalaman 09:52


09 February 2004

Balada rumah 1

Pernah punya masalah mencari rumah? Saya beberapa kali mengalaminya. Semua bermula ketika saya diterima di sebuah sekolah kedinasan di pinggiran Jakarta (Jakarta coret maksudnya), meninggalkan sejuknya udara Bandung, yang sudah saya hirup sejak lahir. Tapi, sepanjang 3 tahun masa perkuliahan, masalah ini bukanlah masalah yang serius2 amat, biasalah daerah kampus, pasti banyak kontrakan atau kost2-an.
Tapi, semuanya berubah ketika saya ditugaskan untuk mengisi posisi pada sebuah kantor di pelosok Sulawesi Selatan, yang baru2 ini terkenal dengan pertempuran polisi vs tentara dan peledakan sebuah cafe, yang masih sangat asing bagi saya. Untunglah, saya berangkat kesana tidak sendirian, karena ternyata masih ada 5 kawan yang lain. Akhirnya, berangkatlah kami kesana tanpa satupun alamat yang dituju, kecuali alamat kantor tujuan dengan harapan akan ditampung oleh kakak kelas kami yang lebih dulu kesana. Itupun kami tidak tahu siapa saja dan berapa orang kakak kelas kami disana, hanya tahu sudah ada yang disana saja.
Ternyata, harapan kami untuk ditampung oleh kakak kelas terwujud, mereka memang menawarkan untuk tinggal bersama dulu sementara, tapi yang menjadi masalah, ternyata merekapun menumpang dirumah dinas seorang atasan yang juga tinggal bersama keluarganya. Alhasil, kami pun tinggal berdesak2an di rumah dinas atasan kami tersebut (bayangkan, kakak kelas ada 4 ditambah kami 6 orang, kaya' di asrama putra). Suasana asrama ini kami rasakan sekitar 1 bulan. Kemudian, yang punya rumah, karena suatu hal, diharuskan pindah ke rumah dinas lain yang lebih kecil dan tidak mungkin menampung para pengungsi seperti kami, maka kamipun pontang-panting mencari tempat tinggal. Kota tempat kami tinggal ini, bukan daerah kampus ataupun pusat perekonomian yang banyak kantor, jadi mencari kontrakan ataupun kost2an bukanlah soal mudah, apalagi untuk 10 orang sekaligus.
Setelah pontang-panting kesana-kemari, menyerap dan mericek semua informasi, lobby sana-sini, akhirnya kami dibolehkan untuk menempati 3 rumah dinas kantor lain dengan catatan untuk memperbaiki kondisinya yang rusak berat. Setelah diperbaiki secukupnya, jadilah kami menempati 3 rumah dengan posisi 4-3-3. Kalo nggak salah ini posisi menyerang.
Selama tinggal disini ada kejadian yang nggak mungkin saya lupakan: Kami semua pernah kehilangan baju! Baju saya rendam malam untuk dicuci besok, paginya udah hilang! Bahkan pernah 2 malam berturut2 kami kehilangan baju di jemuran belakang. Malam ke-3 kami semua tungguin, jelas aja nggak dateng lagi malingnya. Rupanya para maling itu menganut paham takut "kuwalat" kalau mencuri 3 malam berturut2 (terang aja, pasti udah ditungguin yang punya rumah...:D).
Setelah sekitar 1 tahun saya disana, seorang kawan menikah. Karena finansial beliau sudah tersedot untuk pernikahan dan boyongan, saya yang lagi ada kelebihan rizki waktu itu, memutuskan untuk memberikan kamar kepada beliau dan kemudian mencari tempat kost.
Setelah kembali melakukan proses mirip intel, akhirnya didapatkan sebuah tempat kost yang strategis: dekat masjid, bebas banjir, kamar mandi sendiri, dan, ini dia, aman dari maling (ini promosi yang punya rumah, tapi memang terbukti kemudian).
Saya cukup betah disini, keluarga yang punya rumah baik, bisa ikut makan (bayar tentunya, tapi nggak seberapa kalo dibandingin dengan beli diluar), dan oleh jamaah masjid diangkat sebagai asistem imam (sampai2 seorang jamaah mengira saya penunggu masjid..:)). Setelah habis satu periode, karena masih betah, sayapun memperpanjang kost disana satu periode lagi.
Setelah habis periode kedua, ternyata kondisi keuangan sedang tidak memungkinkan untuk memperpanjang kost lagi disana (biasalah, nabung setahun habis untuk cuti 2-3 minggu...). Untungnya seorang teman menawarkan untuk meneruskan kontrakan temannya yang pindah, yang masih tersisa 3 bulan lagi. Pada saat itu kami berencana untuk melanjutkan kontrak disana begitu masa kontrak yang sekarang habis, dengan kenaikan yang sudah kami prediksikan. Tapi, ternyata prediksi kami meleset, harga kontrak rumah tsb naik 350%! Terpaksalah kami cari kontrakan lain lagi.
Lagi2 seorang kawan menawarkan untuk meneruskan kontrakannya lagi, dengan gratis tentunya, karena dia melanjutkan studi ke Yogya. Nggak mikir lagi, langsung diiyakan saja. Setelah 4 bulan disana, masa kontrak hampir habis, yang punya rumah datang untuk menanyakan bagaimana kelanjutan kontrakannya. Sebetulnya saya nggak terlalu optimis bisa ngontrak lagi disana, mengingat pengalaman sebelumnya. Apalagi alokasi dana saat itu lebih diprioritaskan untuk rencana pernikahan saya. Tapi, diluar dugaan, harga kontrak rumah itu malah diturunkan oleh yang punya rumah, begitu beliau tahu saya akan menikah dan menempati rumah tersebut dengan istri setelah menikah nanti. Subhanallah, Allah tunaikan janji-Nya untuk memberi kemudahan pada orang2 yang menikah dengan niat yang baik (insya Allah).

Bersambung...
Insya Allah nanti disambung lagi, kerja dulu...:)

duduk dihalaman 09:42


Menang Euy!

Kemenangan di pertandingan kemarin
berarti
makan siang gratis hari ini

duduk dihalaman 08:59


06 February 2004

Kurindu

kemarin, saat shalat maghrib di mushalla kecilku
berjumpa aku dengan serombongan manusia
pancaran keshalihan terpancar dari raut wajah yang cerah
berpadu dengan luapan semangat
Carrier mereka bariskan, serapi barisan shaf mereka dalam shalat jama'ah
tiba-tiba bau alam bebas menyeruak, menggoda indera penciumanku
membawa sebuah suasana yang pernah sangat akrab

diperjalanan masa laluku
saat berjalan dengan sahabat-sahabat terbaik dalam iman dan petualangan
menelusuri jalan mendaki di Gunung Slamet sehabis badai
mencium aroma padang edelweis di Gunung Bawakaraeng
merasakan hangatnya keramahan masyarakat Badui

Kurindu bau itu,
Kurindu melantunkan adzan di tengah alam-MU

duduk dihalaman 16:18


Wajah Ini

Tanpa bermaksud menghilangkan rasa syukur ataupun tinggi hati terhadap karunia-Nya, perkenankan saya berbagi cerita ini

--------------------------------------

Cara paling mudah untuk menebak usia orang yang baru berjumpa adalah dengan melihat wajah dan raut wajah. Hal ini dengan PD-nya dipraktekan seorang kenalan baru yang bertemu dalam sebuah rapat BLM (Badan Legislatif Mahasiswa), ketika saya kembali lagi kebangku kuliah - sebuah sekolah tinggi kedinasan yang mensyaratkan untuk kerja dulu baru bisa lanjut kuliah - setelah delapan tahun merasakan ngantor (terbayang betapa uzurnya saya dibandingkan kenalan baru itu yang masih kuliah D3 tingkat 3). Setelah ngobrol banyak hal tanpa sungkan, akhirnya dia bertanya: “Fresh graduated atau sempet kuliah ditempat lain?” Oalaaah…rupanya sepanjang pembicaraan dia mengira saya mahasiswa baru tingkat 1.
Masih diacara yang sama, ketika istirahat, seorang mahasiswa tingkat 3 yang lain bertanya, dengan nada yang menurut saya agak kurang sopan:”kamu anak baru ya?”
Dilain hari, disebuah bus saya bertemu dengan mahasiswa yang baru lulus D3 tahun 2003 kemaren, dan dia menebak saya baru lulus D3 diatas 2000-an (padahal saya lulus D3 tahun 1995), langsung saja kawan seperjalanan saya mengucapkan selamat :D
Dari semua peristiwa ini saya menjadi semakin maklum kenapa istri saya selalu ribut dengan penampilan saya. Kalau kacamata ketinggalan, selalu diingatkan untuk dibawa, “biar keliatan lebih dewasa” selalu katanya. Hal ini ditambah lagi dengan kebiasaan saya membawa tas ransel kemana-mana, karena alasan praktis, dan memakai pakaian anak gunung, kalau nggak ke kantor (ke kantor aja kalau lagi iseng pake celana gunung kok…:))


Jadi, melihat wajah dan raut wajah tidak selamanya tepat untuk menebak kisaran usia orang. Cara paling tepat adalah dengan meminjam KTP atau SIM yang bersangkutan.

duduk dihalaman 11:21


05 February 2004

Perjalanan Hidayah

Pada awalnya aku hanyalah sebuah batu apung di sungai,
akan kuikuti kemanapun aliran sungai mengarah.
Apabila arus deras, aku ikut cepat.
Apabila arus lemah, aku ikut pelan.
Dan ketika arus membawaku pergi dari rumahku,
seberkas sinar mentari hangat menyapa.
Sapaannya membuatku terdiam meresap.
Tak kupedulikan lagi arus mengajak.
Karena sinar mentari mengajakku berubah menjadi batu karang.
Dan, lewat proses yang hanya bisa dimengerti oleh-NYA,
perlahan tubuhku berubah menjadi batu karang.
Dengan cepat, proses tidak masuk akal terjadi.
Sampai, kemudian aku bertemu sekuntum melati,
yang kuminta untuk menebarkan keharumannya bersamaku.
Ia menerima!
Jadilah melati tumbuh diatas batu karang.
Berusaha tetap tegar di tengah derasnya arus sungai,
seraya tetap menebar wangi melati ke segala penjuru.

Buat melatiku, tumbuh diatas karang tidak mudah, biarlah DIA yang melakukannya

duduk dihalaman 15:30


Dunia Lain

Ini cuplikan diskusi di sebuah website.
Jangan tegang, santai aja lagi....:P

--------------------------------

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalaamu'alaikum Wr. Wb.


Saya luruskan kembali niat saya ikut nimbrung dalam forum ini adalah atas dasar cinta terhadap sesama mu'min dan muslim. Dan Insya Allah, ini semua bukan debat kusir.

Yang saya ketahui, bisa melihat jin, dikala orang lain tidak bisa melihatnya, bukanlah sebuah "kelebihan", melainkan "kekurangan". Mengapa? karena memang fitrah manusia dan struktur tubuh manusia tidak memungkinkan untuk melihat alam ghaib (jin). Kita harus berhati2 dlm masalah yang ghaib ini, karena akan menentukan diterima atau tidaknya amal seseorang. Mengaku2 bisa melihat yang ghaib berarti sudah menyekutukan Allah, krn hanya dialah yang mengetahui yang ghaib. "(Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu" (QS. 72:26). Kadang2 Dia menampakkan SEBAGIAN yang ghaib kpd Rasul dan Nabi, sebagai mu'jizat bagi mereka."Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya" (QS. 72:27). Rasulullah saw. sendiri tidak memiliki kemampuan untuk melihat yang ghaib, kecuali pada saat2 tertentu (tidak setiap saat) dan berdasarkan wahyu dari Allah 'Azza wa Jalla. "Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman" (QS. 7:188). Jadi, untuk jaman sekarang, apabila ada orang yang mengaku bisa melihat yang ghaib (jin) hanya dua kemungkinan: dia orang yang shalih atau orang yang jauh dari keshalihan. Orang yang shalih karena karamah (yg tdk bisa dipelajari, ditransfer, dihadirkan kapanpun dia mau, dan dipamerkan) sedangkan orang yang jauh dari keshalihan karena, menurut istilah seorang ustadz yang sering mengurusi jin, dia memelihara atau dipelihara jin. Dalam ruqyah syar'iyyah di majalah Ghaib sendiri banyak ditemukan kasus orang yang sebelumnya bisa melihat "sesuatu" menjadi hilang kemampuannya setelah menjalani ruqyah syar'iyyah. Dalam topik lain di forum situs ini juga ada yang mengaitkan dengan sebaik2nya bentuk manusia (At-Tiin:4). Seolah2 ada "kekurangbaikan" manusia karena tidak bisa melihat jin sementara jin bisa melihat manusia. Ketahuilah, ini semua sudah sunnatullah. Untuk menjawabnya, perlu sebuah penafsiran berdasarkan ilmu, bukan persangkaan semata yang mudah dipengaruhi tipu daya syaithan. "Sebaik2nya penciptaan" manusia, dalam sebuah tafsir, dikarenakan proses penciptaan manusia yang memperoleh tiupan ruh langsung oleh Allah, yang tidak didapati oleh makhluk lain dan ditambahkan oleh Sayyid Quthb dalam tafsir Fii Zhilaalil Qur'an bahwa kebaikan bentuk manusia karena keseimbangan struktur jasad, akal, dan ruh manusia.

Sebagai penutup saya ingin mengutip komentar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah thd ayat:
".....Sesungguhnya ia (syaithan) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka". (QS. 7:27).
Beliau mengatakan: "Yang ada didlm Al-Qur'an bahwa mereka (jin) melihat manusia sedang manusia tidak melihat jin, ini adalah haq (kebenaran) yang menunjukkan bahwa mereka melihat manusia pada suatu keadaan sedang manusia tidak melihatnya pada keadaan tersebut. Tidak ada didalamnya (penafsiran) bahwa tidak ada seorangpun diantara manusia yang tidak melihat mereka pada suatu keadaan, bahkan terkadang diantara orang2 yang shalih melihat mereka begitu juga dengan orang2 yang tidak shalih, akan tetapi tidak melihat mereka pada setiap saat (Majmu Fatawa Ibnu Taimiyyah, juz 15 hal. 7).

Qur Rabbi a'uudzubika min hamazaatis syayaathiin. Wa a'uudzubika Rabbi ayyahdhuruun.
Wallaahu a'lam bisshawab.
Hadaanallaahu wa iyyaakum ajma'iin.

Maraji'
(Daftar Pusataka):
Al-Qur'anul Karim
Majalah Ghoib Edisi No. 8 Th. 1/1424H/2003M




duduk dihalaman 08:50


04 February 2004

Kenapa

Kalian habiskan hari
dengan bermain dan bermain
Hingga
yang kudapatkan hanyalah
keceriaan ditelan peraduan.

duduk dihalaman 07:45


03 February 2004

Orang yang Pertama

Aku memiliki sahabat seorang ibu muda, bernama Yani, yang memiliki seorang bayi seusia bayiku. Kami biasa bertemu di acara pengajian rutin di daerah Kebayoran Baru. Dalam pandanganku, ia seorang yang bersemangat dan cerdas, di antara kesederhanaannya. Ia juga cukup aktif di kepartaian. Suatu hari kami berunding untuk melaksanakan sebuah bakti sosial. Semua melontarkan ide masing-masing. Tapi aku perhatikan sedari tadi ia diam saja.
Kenapa, kok tumben diam saja, Yan? tanyaku heran. Ah, nggak, saya hanya ada satu pertanyaan. Ini baksosnya kontinyu atau hanya sekali ini saja? Ya, sekali ini dulu, sekalian perkenalan partai gitu, kata yang lain. Mengapa kita nggak melakukannya dengan kontinyu? Kesulitan mereka kan tidak terhapus hanya dengan sekali baksos, ujarnya. Yaa, mana kita punya dananya? tukas bendahara.
Sahabatku ini terdiam. Lalu katanya, Baiklah, silakan teruskan. Saya ikut. Alhamdulillah, baksos kami berlangsung sukses. Betapa menyenangkan melihat kaum dhuafa begitu antusias menerima bingkisan sembako disertai dengan bazaar baju murah sekali. Banyak juga pertanyaan masuk seputar PKS (waktu itu namanya masih PK).
Beberapa bulan kemudian, kami sudah tak terlalu memikirkan baksos itu lagi. Hingga suatu saat ibu ketua kelompok pengajianku berkisah, Tadi saya ketemu dengan Bu Rapiah. Masih ingat? Itu lho, ibu yang anaknya ada tujuh, yang waktu kita baksos dia sempat kerepotan dengan tiga balitanya yang rewel. Oya. ingat. Gimana kabarnya? tanyaku. Dia mengucapkan terima kasih pada kita atas beasiswa yang diberikan pada anaknya yang dua orang sekolah di SD itu.
Tapi saya malah bingung, beasiswa yang mana ya? Memangnya kita punya program beasiswa? Kayaknya belum deh, ia tampak bingung sendiri. Kami juga bingung. Mungkin bukan DPRa sini kali? celetuk salah satu temanku. DPRa sini kok, dia bilang. Lagipula, dia kan tinggalnya di wilayah DPRa sini, jawab ibu ketua.
Misteri beasiswa itu sampai sekian lama tak terpecahkan. Suatu hari, Yani membagikan sebuah list sumbang-an untuk anak seseorang di wilayah DPW lain. Anak itu menderita kerusakan syaraf, padahal usianya masih balita. Setelah mendengar ini dan itu tentang bayi malang tersebut, kami sepakat berinfaq.
Pada saat yang lain aku, selaku administrator mailing list DPRa mendapat email dari ketua sebuah DPRa di DPW tempat lain. Isinya sungguh membuat kami terharu. Begini bunyinya, Terima kasih atas bantuan saudara sekalian untuk biaya operasi dan sekaligus fisioterapi anak seorang warga di DPRa kami. Kedua orangtuanya ingin sekali bersi-laturahmi dengan Anda semua. Ia bilang, saudara sekalian telah berbuat di saat yang tepat. Sebab ada seorang temannya yang kaya raya, menjanjikan mau menolong, tapi hingga saat inipun tidak terwujud. Hal itu tidak lain karena ia tidak berhasil menghimpun dana dari teman-teman yang kaya raya itu. Alasannya karena mereka tidak kenal dengan warga kami tersebut. Subhanallah, ukhuwah islamiyah mampu menyatukan hati Saudara sekalian dengan kami semua, dengan keluarga yang ditimpa kemalangan tersebut.
Maka, aku mulai menghubungkan peristiwa setelah baksos dengan sahabatku Yani. Hingga suatu hari aku bertemu dengan teman dekatnya yang sedang mengantri di sebuah bank. Sedang nabung ya, Mbak? sapaku setelah bertukar salam. Ah, nggak, Mbak. Ini, mau menyetorkan uang sumbangan. Alhamdulillah, ada tambahan lagi nih. Lalu aku mulai mengoreknya. Subhanallah, ternyata Yani dan beberapa temannya membuka sebuah rekening bank khusus. Penggunaannya untuk beasiswa dhuafa, anak jalanan, keluarga muslim yang sedang ditimpa musibah, hingga daerah-daerah konflik, dan saudara-saudara muslim di negeri lain. Yang terakhir ini mereka menyalurkannya melalui LSM-LSM seperti PKPU, DSUQ, MER-C, BSMI, dan beberapa yayasan lain, termasuk Dompet Dhuafa.
Untuk itu mereka membuat jaringan dengan berbagai kalangan yang mampu dan mau berinfaq secara teratur, dengan cara menyisihkan berapa saja bagian dari pendapatan mereka. Mbak Yani bilang, kalau bisa jadilah kita orang pertama yang menolong mereka. Jangan sampai mereka yang minta, baru kita tolong, ujar muslimah berjilbab itu.
Subhanallah. Getar di hatiku tak terkatakan. Getar itu kian menjadi, saat beberapa hari setelah itu aku bertemu Yani yang bersemangat itu sedang keluar dari ATM dengan wajah agak murung. Ketika kutanya, ia menjawab, Ah, nggak apa-apa. Gajiku belum ditransfer. Sementara aku perlu beli susu untuk bayiku. Bagaimana kalau aku pinjami dulu? tanyaku bersimpati. Bayangkan, orang yang selalu jadi orang pertama menolong saudaranya ini, ternyata sedang kesulitan keuangan untuk membeli sekaleng susu bayinya. Ah, nggak usah. Nanti aku telpon kantorku saja, ujarnya ringan. Tak lama kulihat ia sibuk dengan hp-nya. Kuamati setelah itu, wajahnya kuyu.
Ia melangkah pergi dengan gontai. Agaknya usahanya tidak berhasil. Hatiku bergetar. Teringat kata-katanya, kalau bisa jadilah orang yang pertama menolong saudaramu. Jangan tunggu hingga ia meminta. Maka, aku segera memburunya. Kutarik tangannya dan setengah kupaksa, kua-jak ia masuk ke sebuah supermarket tak jauh dari situ. Kupaksa ia mengambil sekaleng susu bagi bayinya. Ia tampak tidak enak.Apalagi di kasir aku membayarinya. Jangan, nanti aku susah menggantinya, aku lagi nggak punya uang, ujarnya memelas. Kamu nggak perlu ganti. Ingat, aku saudaramu. Dan aku ingin jadi orang yang pertama yang menolong saudaraku.. Beri aku kesempatan berbuat sepertimu, yaa?
Kulihat bening di matanya. Bening terima kasih. Bening haru. Hatiku basah. Sejuk. Allah, ajari aku untuk selalu berusaha menjadi orang pertama yang menolong saudara-saudaraku, seperti sahabatku Yani..

(Ifa Avianty)

Bersumber dari buku "Bukan di Negeri Dongeng - Kisah Nyata Para Pejuang Keadilan" karya Helvy Tiana Rosa dkk.

Bagaimana dengan kita kawan? Siapkah kita jadi yang pertama?

duduk dihalaman 08:33