Halaman Mungil Penuh Cinta dan Harap

Sebuah halaman dapat memperindah sebuah rumah, begitu juga sebaliknya, halaman dapat membuat rumah menjadi tampak buruk. Halaman ini diharapkan akan memperindah sebuah rumah mungil yang damai dengan cinta dan harapnya. Cinta yang bersumber dan didedikasikan pada DIA yang penuh cinta. Harap akan abadinya cinta itu hingga di jannah NYA kelak.

Detak kalA


Bahagia di halamaN

Saya, seorang manusia biasa diawal tiga dasawarsa yang dipanggil abi oleh anak-anak yang lucu: afifah hamasatunnisa, yang disebut dan menyebut dirinya dengan kakak atau iffah, lahir di bogor 4 desember 2001, ahmad alfaqih yang dipanggil Aa' atau faqih, lahir di bogor 13 april 2003, Aqil Abdurrahman, lahir di bogor 23 Januari 2005, yang menyebut dirinya sendiri ,dan kami ikuti, dengan sebutan Baba, serta Ahmad Yasin, lahir di Bogor, 10 Januari 2005, yang biasa kami panggi Acin atau Dede'. Beristrikan seorang wanita shalihah yang dipanggil ummi oleh kedua orang anaknya.


Setetes embuN

by wdcreezz.com

Nama :

Email/URL :

Kata :



Halaman tetanggA

puji balq gre lies rahman ihsan dee ami viTa adhi abu abdurrahman tyas iinanto hendra singarinjani otty diah assa_solo arifiani braunschweiger swasmi t.w. iman bril linda hidayat nikeyudi keluarga izza uyet bagas atta abhiray dey dita *)Iin adionggo ochan aisya hanum ARS dina erwin hanan ine

Embun segaR

Keajaiban Al-Qur'an Pusat Konsultasi Syariah Partai Keadilan Sejahtera Pusat Informasi Palestina Tempo Interaktif Detik Hidayatullah Media Indonesia Republika Era Muslim

Obrolan tetanggA


Kebun bungA

September 2003
November 2003
January 2004
February 2004
March 2004
April 2004
May 2004
June 2004
July 2004
August 2004
September 2004
October 2004
November 2004
December 2004
January 2005
February 2005
March 2005
May 2005
June 2005
September 2005
January 2006
February 2006
March 2006
April 2006
May 2006
September 2006
December 2006
January 2007
February 2007
May 2007
June 2009
May 2011

Pencinta alamI

Free Web Page Hit Counters
Sejak 11 Mei 2005



Tukang kebuN

 Blognya Indonesian Muslim Blogger�E BlogFam Community

26 April 2004

  

Abdullah, Bocah Palestina

Bunda, mengapa mereka membunuh ustadz Al-Rantissi?
Bunda, mengapa mereka membunuh Syaikh Yassin?
Bunda, mengapa mereka membunuh Ayah?
Bunda, mengapa mereka membunuh Abang Khalid?
Bunda, mengapa mereka membunuh kawan-kawan bermainku?

Tiada jawaban dari Bunda. Terlihat kesedihan dari mata, tapi hanya sesaat, tergantikah oleh pancar ketabahan dan semangat. Ketabahan seorang perempuan yang telah kehilangan suami dan anak-anaknya. Ketabahan dari rakyat yang kehilangan pemimpinnya. Semangat seorang ibu untuk tetap melindungi sisa keluarganya. Semangat seorang hamba Allah untuk tetap menghasilkan syuhada-syuhada berikutnya, walaupun itu berarti perpisahan dengan sang buah hati di dunia fana ini.

Suatu anugrah dari Allah, bahwa bumi Palestina dihuni oleh kaum perempuan yang subur, yang siap melahirkah para mujahid.

Bunda sedang mempersiapkan makan siang untuk anak-anaknya, ketika orang-orang tua dan muda, bahkan anak-anak berhamburan kejalan untuk melakukan aksi intifadhah terhadap sebuah tank dan panser yang melintasi pemukiman mereka. Abdullah segera mengambil sepatu dan berpamitan kepada Bunda. Dia mencium tangan Bunda dengan takzim. Tiada kata terlontar dari mulut Bunda. Hanya seulas senyum. Senyum penyemangat, walau ia tahu bisa jadi tidak akan dapat bertemu dengan Abdullah lagi setelah ini. Abdullah mencium kening ketiga adiknya satu persatu dan kemudian melesat mengikuti barisan intifadhah.

Intifadhah....!
Batu-batu berhamburan
Melontarkan keagungan
Dari tangan-tangan yang...
Membebaskan!


Tangan kecil Abdullah bergerak lincah mencari batu-batu dijalanan. Berulang kali batu terlontar kearah tank dan tentara zionis Israel yang bersenjata lengkap. Tiada kengerian. Tiada takut. Hanya semangat. Semangat untuk menggapai kemuliaan hidup atau meraih janji Rabbani. Takdir Sang Khaliq membuat Abdullah terseret gelombang manusia kebarisan terdepan. Terus melempar, sampai tiada lagi batu. Tiba-tiba dia merasa tubuhnya melayang, terus melayang. Dilihatnya Bunda yang sedang menyuapi ketiga adiknya yang terus menjauh dari pandangan. Kepalanya mendongak, dilihatnya sekumpulan manusia menanti. Semakin dekat, ia melihat Ayah, Abang Khalid, Syaikh Yassin, Ustadz Rantissi menyambut dengan senyum. Mereka terlihat bersama dengan seorang yang begitu mempesona. Wajahnya tampan, kulitnya bersih, dan sangat dihormati oleh orang-orang disekelilingnya. Diakah Sang Pembebas? Diakah Rasulullah?

...dan bukan kamu yang melempar, tetapi Allah-lah yang melempar...(QS. Al-Anfaal : 17)

duduk dihalaman 16:13