Halaman Mungil Penuh Cinta dan Harap

Sebuah halaman dapat memperindah sebuah rumah, begitu juga sebaliknya, halaman dapat membuat rumah menjadi tampak buruk. Halaman ini diharapkan akan memperindah sebuah rumah mungil yang damai dengan cinta dan harapnya. Cinta yang bersumber dan didedikasikan pada DIA yang penuh cinta. Harap akan abadinya cinta itu hingga di jannah NYA kelak.

Detak kalA


Bahagia di halamaN

Saya, seorang manusia biasa diawal tiga dasawarsa yang dipanggil abi oleh anak-anak yang lucu: afifah hamasatunnisa, yang disebut dan menyebut dirinya dengan kakak atau iffah, lahir di bogor 4 desember 2001, ahmad alfaqih yang dipanggil Aa' atau faqih, lahir di bogor 13 april 2003, Aqil Abdurrahman, lahir di bogor 23 Januari 2005, yang menyebut dirinya sendiri ,dan kami ikuti, dengan sebutan Baba, serta Ahmad Yasin, lahir di Bogor, 10 Januari 2005, yang biasa kami panggi Acin atau Dede'. Beristrikan seorang wanita shalihah yang dipanggil ummi oleh kedua orang anaknya.


Setetes embuN

by wdcreezz.com

Nama :

Email/URL :

Kata :



Halaman tetanggA

puji balq gre lies rahman ihsan dee ami viTa adhi abu abdurrahman tyas iinanto hendra singarinjani otty diah assa_solo arifiani braunschweiger swasmi t.w. iman bril linda hidayat nikeyudi keluarga izza uyet bagas atta abhiray dey dita *)Iin adionggo ochan aisya hanum ARS dina erwin hanan ine

Embun segaR

Keajaiban Al-Qur'an Pusat Konsultasi Syariah Partai Keadilan Sejahtera Pusat Informasi Palestina Tempo Interaktif Detik Hidayatullah Media Indonesia Republika Era Muslim

Obrolan tetanggA


Kebun bungA

September 2003
November 2003
January 2004
February 2004
March 2004
April 2004
May 2004
June 2004
July 2004
August 2004
September 2004
October 2004
November 2004
December 2004
January 2005
February 2005
March 2005
May 2005
June 2005
September 2005
January 2006
February 2006
March 2006
April 2006
May 2006
September 2006
December 2006
January 2007
February 2007
May 2007
June 2009
May 2011

Pencinta alamI

Free Web Page Hit Counters
Sejak 11 Mei 2005



Tukang kebuN

 Blognya Indonesian Muslim Blogger�E BlogFam Community

27 July 2004

Ayo, Silakan Dicoba

Saya pertama kali menginjak Bumi Sawerigading (sebutan untuk kota Palopo) tanggal 5 Oktober 1995. Datang menuju daerah baru, kebiasaan baru, dan juga makanan-makanan baru. Walau babeh orang Bugis, tapi saya lahir dan besar di Bandung, jadi tetap merasakan sesuatu yang baru.

Bicara soal makanan, saya butuh penyesuaian beberapa waktu sebelum nyetel dengan makanan disana. Disana dulu tidak ada seperti warteg, yang bisa pilih lauk. Paling kalau mau nasi campur: seporsi nasi dengan lauk yang sudah sepaket, biasanya telur, sayur, tempe orak-arik, dan/atau ayam. Nasi campur favorit saya adalah nasi campur Warung Sarinah di depan pasar sentral, karena masih ada cita rasa jawa, yang menjual orang jawa. Sebagai penggemar nasi goreng, saya juga berusaha mencari nasi goreng. Tapi, nasi goreng disana, dan di Sulsel pada umumnya, berwarna merah, karena banyak memakai saos. Akhirnya, di warung sarinah itu juga, saya biasa pesan nasi goreng dengan minta tidak pakai saos atau saosnya diganti kecap. Memang agak aneh untuk masyarakat disana, tapi biasanya ibu di warung itu sudah hafal permintaan saya. Selain itu, masih ada makanan-makanan khas disana yang akhirnya menjadi favorit saya:

1. Coto Makassar
Coto (bukan soto) ini berbahan baku utama jeroan sapi atau kerbau. Ketika pertama datang dan mencoba, yang saya makan hanya daging dan hati saja. Tapi perlahan, saya mulai bisa menikmati seluruh isinya. Tinggal handuk (babat) saja yang saya masih geli untuk memakannya. Biasanya coto ini dimakan dengan ketupat yang sudah dibelah menyilang, jadi tinggal dibuka dan terbelah. Cara makannnya, biasa ketupat dipegang di tangan kiri, dan dipotong dengan sendok setiap suapan satu persatu. Jadi bukan dipotong dulu semua dan diceburkan kedalam coto. Jangan lupa, untuk menambah sedap, bagi yang suka, untuk minta tambahan bawang goreng dan daun seledri. Biasanya tambahan itu akan disusulkan dalam satu piring kecil beserta jeruk nipis. Standar saya makan biasanya 1 mangkok coto + 2 ketupat + 1 iris jeruk nipis + daun seledri dan bawang goreng sebanyak-banyaknya. Sedap.

Tempat favorit saya untuk coto ini adalah di Jl. Mangga, depan pasar sentral, sebelah warung sarinah. Yang khas di tempat ini adalah minumannya. Teh bukan, tapi air putih juga bukan. Manis tidak, tapi tidak tawar juga. Ditambah es batu, menyegarkan. Biasanya saya pergi kesana sekitar jam 8-9 pagi. Bila dengan kawan kantor, kata sandi yang digunakan adalah: Macho (makan coto) atau Macoppa (makan coto pagi-pagi).

Untuk beberapa daerah di Sulsel, biasa digunakan daging kuda sebagai bahan bakunya (tapi bukan di Palopo). Pernah suatu ketika, ketika hendak naik Gn. Bawakaraeng, kami makan coto di Malino. Sesudah makan, kawan saya yang berasal dari daerah tersebut baru bilang bahwa yang kami makan tadi adalah coto kuda. Walah! Kalau bilang dari tadi mungkin 'gak jadi makan. Tapi pas makan, mungkin karena lapar, nggak kerasa bedanya kok ;P Kawan lain juga pernah mengatakan, untuk mengetahui apakah yang kita makan coto kuda atau bukan, tunggu saja reaksi sesudahnya. Kalau tertawa, dia akan meringkik seperti kuda atau tiba-tiba kakinya menendang kebelakan (ini mah pasti bercanda hihihihi...)

2. Es Pisang Ijo
Es Pisang Ijo terbuat dari pisang (biasanya pisang kepok) yang dibungkus kulit (saya tidak tahu terbuat dari apa, rasanya manis) berwarna hijau, disiram saos berwarna putih yang rasanya manis-gurih, dipakaikan sirop merah (disana yang terkenal sirop DHT), pakai es batu atau es batu yang sudah diserut, ditambah susu kental manis. Segar. Sebetulnya, ibu di Bandung biasa buat pisang ijo, tapi beliau tidak pernah menjadikan es, hanya pisang ijo disiram santan.

Tempat favorit saya adalah di Toko Muzafir, depan terminal Palopo, dan yang di dekat Pasar Subuh.

3. Roti Bakar dan Kopi Susu
Roti bakar berbeda dengan yang biasa saya temui. Roti tawar khusus dibakar dulu diatas kompor arang dan diolesi kaya (terbuat dari telur, tepung, santan, dan gula merah). Dipotong kecil-kecil. Dimakan sambil ditemani kopi susu. Biasanya yang digunakan kopi Toraja yang terkenal gurih. Kopinya selalu disimpan dalam teko khusus terbuat dari kuningan yang selalu diatas kompor arang. Konon bahan kuningan ini bisa membuat semua aroma kopi termaksimalkan keluarnya. Sebelum dituang ke gelas disaring dulu, sehingga sedikit sekali ampasnya. Sebelum menikah, hampir setiap pagi saya pergi ke warung kopi untuk sarapan roti bakar dan kopi susu ini. Biasanya, saya pergi setelah shalat shubuh, sekitar jam 1/2 6. Dan biasanya, orangnya itu-itu juga. Jadi kita biasanya sudah akrab, dan semua informasi bisa kita dapat disana. Tempat favorit saya adalah Warung Pantilang dan Warung Dinasty.

4. Durian
Ini dia, trademark Palopo! Kalau jalan-jalan ke Makassar, dan sedang banyak durian, pasti dibilang durian Palopo. Pertama kali ke Palopo, saya tidak suka durian. Tapi begitu melihat banyak dan murahnya durian, saya merasa rugi kalau tidak mencicipinya. Dari sekedar mencicipi sampai akhirnya jadi penggemar berat. Bila sedang musim, Palopo seperti banjir durian. Kalau kita pintar memilih, kita bisa dapat durian yang bijinya kecil dan dagingnya tebal. Selain itu, harga durian disana sangat murah. Terakhir saya beli, sekitar tahun 2000, sebelum saya pindah ke Bandung, harga satu talaja' berkisar antara 5.000 - 8.000 rupiah. Satu talaja' terdiri dari 3 durian yang agak besar sampai yang besar atau 6 durian yang kecil yang diikat berbentuk segi tiga dengan daun (saya tidak tahu daun apa, seperti daun pohon kelapa, tapi lebih kuat). Tempat favorit saya adalah di Latuppa. Sebuah sungai yang jernih dengan banyak batu alam disepanjang aliran sungainya. Disekitar sungai itu banyak pohon durian yang alami, masih tinggi-tinggi. Ada sebuah pondok yang menjual durian dibelakang rumah perisitirahatan Bupati. Kita sebrangi sungai, dan beli durian disana sebelum dibawa kepasar. Yang dijual disini, dijamin matang di pohon. Saya buktikan, ketika sedang makan durian sambil bermain dan berendam di sungai bersama beberapa kawan, ada durian yang jatuh, hanya 1,5 meter dari tempat saya berendam. Alhamdulillah, bukan pas diatas kepala. Langsung saja durian itu kami beli dan makan. Asli sedap.

Hal-hal seperti ini yang sering kali memunculkan rasa kangen dengan Palopo. Kalau coto, es pisang ijo, dan roti bakar, masih ada disini, tapi untuk kopi susunya dan durian murah, susah dapat disini. Kalau durian mahal banyak.

duduk dihalaman 09:47


26 July 2004

Pak Mardjuni

Bila melihat sosoknya, orang tidak menyangka kalau beliau adalah orang yang memiliki banyak tabungan amal jariyah. Beliau adalah seorang purnawirawan ABRI yang menjadi guru ngaji di kompleks saya tinggal ketika kecil. Hampir semua anak di sana belajar ngaji kepada beliau. Entah berapa ratus, atau bahkan ribuan anak yang bisa ngaji berkat beliau. Saya belajar ngaji mulai usia 5 tahun, dan saya bukanlah murid "angkatan" pertama. Kakak saya yang 4 tahun lebih tua juga menjadi muridnya sejak kecil. Seingat saya, ketika saya usia 13 tahun pun beliau masih mengajar ngaji anak-anak. Sesudahnya saya tidak tahu lagi. Bisa dibayangkan betapa banyak muridnya.

Beliau adalah seorang yang ikhlas. Seingat saya, beliau tidak pernah menarik bayaran dari murid-muridnya. Setiap anak yang baru mulai belajar ngaji (benar-benar dari nol), hanya disuruh membawa buku tulis kosong dan bolpoin. Kemudian beliau menuliskan huruf hijaiyah lengkap satu persatu dengan "jabar, jeer, dan pees". Beliau sendiri yang menuliskan, satu per satu (saat itu belum ada buku iqra atau yang lain seperti sekarang). Sesudah dianggap lancar, baru beliau menuliskan lagi huruf hijaiyah dengan tanwin (an-in-un). Kalau sudah dianggap lancar juga, beliau menyuruh kami untuk membawa juz 'amma dan mulai membaca dari belakang. Untuk juz 'amma, beliau mensyaratkan untuk membawa juz 'amma yang hurufnya besar-besar dan jarang, untuk memudahkan membacanya. Padahal, untuk mendapat kitab seperti ini tidaklah mudah. Saya sendiri sampai 3 kali beli baru mendapatkannya. Tapi, tidak ada orang tua yang complain masalah ini. Padahal banyak anak perwira menengah dan tinggi (saya tinggal di kompleks perwira ABRI) yang menjadi murid beliau (lha iya lah, kebangetan kalau protes, wong udah gratis kok :D). Sesudah dianggap lancar, sebelum masuk Al-Qur'an, kami dites untuk shalat lengkap dengan bacaannya, sebagai syarat untuk ngaji Al-Qur'an. Sesudah lulus test itu baru bisa ngaji Al-Qur'an disertai kewajiban untuk shalat lima waktu sejak saat itu. Alhamdulillah, dengan bimbingan beliau, tidak sampai setahun saya sudah bisa ngaji Al-Qur'an, lebih cepat dari pada membaca latin.

Yang luar biasa dari proses belajar ini adalah cara beliau mengajar. Beliau membagi waktu belajar, seingat saya, 2 bagian. Bagian pertama untuk yang masih mengeja dari buku tulis. Bagian kedua untuk yang sudah ngaji juz 'amma dan Al-Qur'an. Aturannya, yang datang duluan ngaji duluan, kaya' kalau ke dokter. Untuk yang sudah lancar, ketika ngaji, beliau dikelilingi oleh bangku-bangku panjang. Beliau duduk ditengah. Setiap bangku panjang diisi 2-3 anak. Jadi, dalam waktu bersamaan ada 8-10 anak mengaji bersama. Setiap yang sudah selesai sesuai dengan batasan beliau, segera digantikan yang lain. Hebatnya, mereka semua mengaji dengan halaman yang berbeda-beda, dan beliau bisa mengetahui siapa anak yang melakukan kesalahan, biarpun itu ada dibelakang beliau. Selain itu, luarbiasanya, beliau hafal sudah sampai ayat mana yang terakhir dibaca setiap muridnya. Saya tidak pernah menghafalkan sampai dimana terakhir membaca, tetapi setiap kali mau mulai ngaji, beliau yang membukakan mushaf Al-Qur'an dan menunjukkan ayat yang harus dibaca sebagai lanjutan hari sebelumnya.

Selain itu, beliau juga orang yang disiplin dan tegas dalam mengajar. Jangan harap untuk bisa ngaji duluan kalau datang belakangan, semua sesuai urutan. Ketika test shalat untuk masuk ke Al-Qur'an, beliau pasti menyuruh untuk datang belakangan dan akan beliau test ketika anak yang lain sudah selesai. Walau kita datang duluan, supaya cepat ditest, jangan harap akan ditest cepat. Begitu aturannya. Beliau juga menerapkan sistem hukuman "pompa" untuk setiap kesalahan. "Pompa" adalah push up untuk murid laki-laki dan jongkok-berdiri untuk murid perempuan. Jumlah "pompa" adalah 5 untuk setiap kesalahan. Ketika mengajar, beliau tidak akan cepat-cepat memberitahu kesalahan kita apa. Seringkali kita disuruh mencari dulu kesalahan itu sendiri. Kalau sudah mentok, baru beliau akan memberi tahu, tapi dengan di-"pompa" terlebih dahulu. Saya ditest shalat sampai 3 hari berturut-turut baru dinyatakan lulus. Padahal, kesalahan saya hanya tidak menempelkan hidung ke lantai ketika sujud. Hal itu baru beliau beri tahu dihari ketiga.

Beliau juga memberlakukan "pompa" kalau kita melalaikan shalat 5 waktu. Sebelum kita mulai ngaji, kalau kita tidak shalat, di-"pompa" dulu 5 kali untuk setiap shalat yang kita tinggalkan. Jangan coba-coba berbohong, karena, wallaahu a'lam bagaimana caranya, beliau bisa mengetahui shalat apa saja yang kita tinggalkan tanpa bertanya. Mudah-mudahan ini kelebihan beliau dari Allah.

Walau begitu, beliaupun bisa memaklumi kalau ada muridnya yang kadang-kadang malas ngaji. Namanya juga anak-anak. Mungkin dari rumah pamit pergi ngaji, tiba disana malas ngaji, asal berterusterang dan tidak terlalu sering, beliau akan perbolehkan untuk tidak ngaji. Tapi, biasa, "pompa" dulu 25 kali. Hal ini termasuk yang sering saya praktekkan :D.

Sekarang, setahu saya, beliau sudah meninggal dunia. Saya mungkin bukan murid beliau yang baik. Sebelum khatam, saya sudah berhenti ngaji. Saya lebih memilih untuk bermain-main. Khatam Al-Qur'an pertama kali saya lakukan dibangku kuliah. Walau begitu, saya tetap berdo'a agar Allah senantiasa membalas amal baik, mengampuni semua kesalahan, dan menjadikan usaha beliau mengajar ngaji sebagai ladang amal yang terus mengalirkan pahala, sehingga menjadikan kubur beliau laksana taman syurga, sebelum beliau masuki kelak. Amin.

duduk dihalaman 07:46


19 July 2004

Subhanallah.

Ahad malam kemarin, seperti biasa ada pengajian di Masjid Alkautsar dekat rumah. Ustadznya baru pulang dari memimpin jamaah umrah dan ziarah ke Istambul, Turki. Beliau menceritakan tentang sebuah masjid yang dibangun 4 abad lampau. Masjid itu diarsiteki oleh seorang arsitek bernama Sinan. Dari kisah yang dipaparkan, bisa terlihat betapa telitinya dia. Pada saat akan membangun, Sinan menghilang. Datang 6 bulan kemudian. Ternyata, dia menghilang bukan sekedar menghilang begitu saja, tetapi dengan tujuan untuk menunda pembangunan masjid itu, agar terhindar dari gempa bumi yang datangnya sudah diperkirakan. Masjid itu lebih besar dari Masjid Istiqlal, begitu juga kubahnya. Ternyata, kubah masjid itu bukan sekedar hiasan, tetapi juga merupakan penopang konstruksi yang tahan gempa. Ventilasi sudah diatur sedemikian rupa. Hingga selain tetap sejuk, bisa mengatur arah angin agar bisa membawa sampah-sampah kecil dan ringan ke satu ruangan tertentu. Begitu juga dengan asap sisa pembakaran lampu minyak. Penerangan pada masa itu menggunakan lampu minyak yang berbahan bakar minyak zaitun. Pembakaran minyak zaitun ini menghasilkan asap yang hitam. Tetapi, tembok masjid tetap bersih karena semua asap langsung terbawa oleh angin menuju suatu ruangan khusus. Disana, asap berkumpul dan menempel di dinding khusus dan menghasilkan jelaga berwarna hitam. Jelaga hasil asap pembakaran lampu minyak ini kemudian dikumpulkan dan diolah untuk menjadi tinta. Dari sini dihasilkan 2 macam tinta. Tinta yang pertama digunakan untuk menulis sehari-hari. Tinta yang kedua disebut "tinta suci", karena sebelum digunakan, tinta ini dibawa dulu ke tanah suci (Masjidil Haram), dan hanya digunakan untuk menulis mushaf Al-qur'an dan hadits-hadits Rasulullah saw. Begitu besar penghormatan mereka kepada Al-qur'an dan As-sunnah. Subhanallah. Didalam masjid itu juga tidak pernah ada sarang laba-laba. Rupanya, ketika pembangunan masjid, salah satu bahan pencampur adukannya adalah telur burung Onta. Selain itu juga, digantung di beberapa tempat, tentunya dengan wadah yang indah, kulit telur burung onta yang rupanya ditakuti laba-laba. Untuk mengatur suara (pada saat itu belum ada sound system), ada bilik-bilik tempat orang mengulang perkataan imam atau khatib di beberapa tempat. Selain itu, semua suara sudah diatur sedemikian rupa supaya naik ke atas kubah sebelum memantul kebawah. Dibawah kubah dipasang semacam gentong besar yang besar dibagian bawahnya yang berfungsi sebagai corong suara, sehingga menghasilkan efek suara. Semua fungsi dan ketelitian ini berpadu dengan keindahan yang menghasilkan satu kata: Subhanallah.

duduk dihalaman 16:22


16 July 2004

Ngadem

Untuk yang tinggal didaerah panas, banyak cara untuk ngadem. Mulai dari cara yang konvensional sampai yang sangat tidak konvensional. Yang konvensional bisa dengan AC atau kipas angin. Agak repot kalau tidak mampu pasang AC tapi kalau kena kipas angin mudah masuk angin. Seperti saya inilah.

Untuk yang inkonvensional, bermacam cara dilakukan. Sewaktu saya masih di Palopo, yang kata orang mataharinya ada dua, karena panasnya, ada teman kantor yang memasang kipas angin di kolong meja kerjanya. Jadi, semilir angin selalu ada dari bawah dan nyamuk juga pergi dari kolong meja. Kebetulan kipas anginnya sudah agak rusak, hingga tidak terlalu kencang lagi. Saya pernah coba ketika istirahat siang duduk di meja itu. Memang amat nyaman untuk duduk-duduk sambil tidur. Ada juga yang memilih untuk tidur dikolong tempat tidur dengan beralaskan lantai. Di Palopo, umumnya (kalau tidak semuanya), bangunan menggunakan seng gelombang. Bisa dibayangkan bagaimana panasnya kalau siang. Dan, masih banyak yang belum menggunakan plafon. Kawan saya yang asal Jakarta itu (padahal Jakarta sudah panas), selalu kepanasan kalau mau tidur siang di rumah. Jadi, untuk menghindari panas dari atas (padahal rumahnya sudah pakai plafon), dia memilih untuk tidur di kolong tempat tidur beralaskan lantai langsung. Ngadem. Saya ketika disana, cara favorit untuk ngadem, sering pergi ke sungai yang airnya jernih. Tempat itu namanya Latuppa. Sekitar 10 menit naik motor, bisa pilih tempat, bawa bekal makan dan minuman dingin. Ketika belum menikah, saya biasa pergi kesana seorang diri. Bawa makanan ringan, minuman dingin, dan bacaan. Cari tempat yang teduh. Nyepi. Lebih asik lagi kalau pas lagi musim durian, makan durian yang murah-murah sambil berendam.

Cara yang dipilih Iffah dan Faqih untuk ngadem juga mungkin terhitung inkonvensional. Iffah senang mengunyah es batu. Kalau saya ngambil es batu untuk minuman dingin, dia pasti sudah siap berdiri disamping untuk minta jatah. Kalau tukang es krim lewat depan rumah, dia biasa teriak dari dalam "Sudah ada es batu Bang..." (ini mah pasti diajarin Ummi :D). Kalau Faqih lain lagi. Dia lebih memilih ngadem dengan duduk didalam kulkas. Bukan duduk didepan kulkas, tapi didalam kulkas! Kalau pintu kulkas terbuka pasti langsung dia duduki bagian bawah kulkas yang agak menonjol keluar dan duduk dengan punggung menghadap kedalam kulkas. Untung dia belum bisa buka kulkas sendiri. Kalau sudah bisa, tampaknya kulkas harus sering dikunci :).

duduk dihalaman 13:27


14 July 2004

Al-Qur'an adalah Kalamullah

Berikut adalah pendapat yang pernah saya publikasikan dalam sebuah milis untuk menanggapi tulisan yang berpendapat bahwa Al-Qur'an ditulis Muhammad berdasarkan pengaruh seorang budak nasrani bernama Ibnu Qumta. Tulisan ini telah diperbaiki dan ditambahkan seperlunya. Semoga ada manfaatnya.

Ide-ide dan wacana untuk mendiskreditkan Islam dan Al-Qur'an sudah bukan barang baru dan "lagu lama" yang coba digulirkan oleh orang-orang yang tidak suka kepada Islam, terutama dari kalangan orientalis. Bahkan, jauh sebelum itu, Rasulullah saw sudah dituduh sebagai tukang sihir, ketika mulai mendakwahkan Islam dan menyebarkan wahyu Allah tersebut. Ide dasar wacana ini adalah untuk menghilangkan keyakinan bahwa Al-Qur'an itu adalah firman Allah, diturunkan derajatnya menjadi bahwa Al-Qur'an itu hanyalah buatan Muhammad, yang bisa salah, dan Muhammad itu membuat Al-Qur'an tentunya dipengaruhi oleh orang-orang disekelilingnya. Oleh karena itu, Allah menantang kepada manusia untuk membuat satu surat saja, seperti dalam Al-Qur'an, tetapi, dari dulu sampai sekarang tidak pernah ada yang bisa memenuhi tantangan tersebut. Termasuk juga wacana yang menyebut bahwa Al-Qur'an sekarang sudah tidak lengkap, karena ada ayat-ayat yang disembunyikan, Al-Qur'an adalah makhluk, yang oleh karenanya sebagaimana makhluk lain tidak sempurna, juga merupakan bagian dari konspirasi untuk melemahkan Islam. Dan upaya-upaya ini tidak akan pernah berhenti sampai akhir jaman sebagai bagian dari perseteruan Al-Haq dan Al-Bathil. Kalau mau baca, ada sebuah buku bagus yang berjudul "Qur'an, Bibel, dan Sains Modern" karangan seorang ilmuwan Perancis, Maurice Bucelle yang memperlihatkan bahwa Al-Qur'an itu mustahil dibuat oleh seorang manusia 14 abad yang lampau.

"Mereka mencoba memadamkan cahaya Allah dengan tangan-tangan mereka, dan Allah akan menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir membencinya. Dialah (Allah) yang mengutus seorang Rasul kepada mereka dengan Al-Huda (Petunjuk/Al-Qur'an) dan agama yang haq yang akan dimenangkan-Nya terhadap agama-agama lain, walaupun orang-orang musyrik membencinya" As-Shaf (61) : 8-9.

Sebetulnya, kalau kita mempelajari Sirah Nabawiyah, kita bisa melihat bagaimana Allah telah mempersiapkan Muhammad sebagai Rasul bahkan semenjak sebelum kelahiran Beliau, dengan kondisi-kondisi yang telah diatur-Nya. Untuk lebih lengkap bisa dipelajari di buku "Sirah Nabawiyah" jilid 1 karangan Said Ramadhan Al-Buthi atau di "Sirah Nabawiyah" karangan Syaikh Al-Mubarakfury.

Wallaahu a'lam bisshawab.

Ini untuk menanggapi bahwa agama bertentangan dengan ilmu pengetahuan.

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Islam tidak perlu dan tidak akan bertentangan dengan ilmu pengetahuan, dan, sudah terbukti, bahwa tidak ada satupun ayat Al-Qur'an yang menyalahi pengetahuan modern, bahkan ilmu pengetahuan modern semakin memperkuat kebenaran Al-Qur'an (Bisa dibaca antara lain di buku yang sudah saya sebut di posting terdahulu dan di buku-buku karangan Harun Yahya). Kecuali teori Evolusi, yang mencoba menyangkal kejadian penciptaan manusia dalam Al-Qur'an, yang kemudian dibantah oleh Harun Yahya dalam buku "Runtuhnya Teori Evolusi" dengan bukti yang tak terbantahkan, tapi kurang dipublikasikan, karena bertentangan dengan ide-ide sekulerisme yang saat ini menguasai dunia. Islam sendiri sangat menghargai orang-orang yang berilmu dan disertai dengan iman, dan mendudukkannya diderajat yang lebih tinggi dibandingkan orang lain. Dan, kalau kita mau jujur dengan sejarah, kemajuan IPA dan eksakta sudah terjadi sebelum abad ke-16 dengan dipelopori oleh ilmuwan-ilmuwan Islam. Untuk contoh kecil, istilah-istilah aljabar, kimia, dsb. berasal dari khazanah Islam. Atau, ketika Ummat Islam sudah berkelana dan berlayar dengan berpanduan pada ilmu falaq (perbintangan), orang-orang Eropa masih memiliki keyakikan bahwa bumi itu seperti sebuah piringan dan bumi adalah pusat tata surya. Ilmuwan yang mewartakan bahwa bumi beredar mengelilingi matahari seperti Nicolai Copernicus dan Galileo Galilei malah dihukum mati oleh kaum agamawan, karena bertentangan dengan keputusan agama. Umat Islam justru mengalami kemunduran setelah bersinggungan dengan ilmu filsafat yang berasal dari Yunani, yang pada akhirnya semakin menjauhkan umat Islam dari agamanya. Tidak salah ada yang
mengungkapkan bahwa kemunduran umat Islam terjadi ketika mereka meninggalkan agamanya, saat dimana orang-orang Eropa mulai "menemukan" kemajuan ilmu pengetahuan yang selama ini dikungkung oleh agama mereka.

Yang ini untuk menanggapi bahwa kekuasaan Allah telah ditransformasikan kepada Nabi, sehingga Nabi lebih besar dari Allah.

Tidak benar, sama sekali tidak benar, bahwa agama Islam lebih menonjolkan Nabi ketimbang Allah. Kalimat Syahadat dimulai dengan persaksian dan sumpah bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, baru dilanjutkan dengan persaksian bahwa Muhammad adalah seorang Rasul Allah. Bila ketika bicara pengamalan Islam, kita merujuk pada Muhammad, itu sesuatu yang wajar, karena beliau lah yang diutus oleh Allah, melalui Beliau lah Allah menyampaikan firman-Nya, dan Beliau juga yang berhubungan dengan Jibril, 'alaihissalam, sebagai penyampai firman-Nya. Alangkah tidak logis ketika kita bicara Islam, kita merujuk pada, misalnya, Charles Kurzman, Darwin, Karl Marx, dll. Tetapi itu semua tidak berarti kekuasaan Allah ditransformasikan kepada diri Muhammad. Sebagai contoh, apa yang dilakukan oleh Rasulullah yang memanggil semua orang yang mampu, tetapi tidak ikut bersama Beliau dalam ekspedisi ke Tabuk. Orang-orang munafik membuat alasan-alasan yang bermacam-macam, walaupun semua orang tahu pada saat itu mereka hanya berdusta, tapi Beliau saw mengiakan saja, dan menyerahkan semuanya kepada Allah. Bahkan untuk urusan-urusan keduniaan yang bersifat teknis, beliau mengatakan bahwa masing-masing kita lebih tahu mengenai hal itu.

Wallaahu a'lam bisshawab.
Hadaanallaahu wa iyyaakum ajma'iin.

duduk dihalaman 11:57


08 July 2004

Hari Anak Nasional
(Anak-anak Bahagia, Orang Tua Kerepotan)

Kemarin, hari Rabu, ada lomba untuk anak-anak dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional di lingkungan Departemen Keuangan. Entah Hari Anak Nasional-nya tanggal berapa. Iffah dan Faqih sudah jauh-jauh hari didaftarkan untuk ikut lomba sesuai dengan usia mereka. Mereka berdua ikut lomba Batita Sehat, tapi berbeda lomba. Iffah ikut lomba puzzle sederhana, sedangkan Faqih ikut lomba mencari ibu.

Jauh-jauh hari mereka sudah diberitahu akan ikut lomba. Tapi, ada sedikit "insiden", ketika Iffah tidak mau ikut lomba puzzle. "Kakak mau ikut lomba menghampiri Ummi", begitu katanya. Namanya juga anak-anak :)

Sejak awal, kami mengikutkan para kurcaci ini, bukan untuk mencari kemenangan, tapi untuk membahagiakan mereka. Faqih kami perkirakan tidak akan bisa menang, wong kalau dipanggi ummi-nya bukannya nyamperin, malah lari sambil ketawa-ketawa minta ditangkep. Gimana bisa menang lomba menghampiri ibu. Kalau Iffah, biasa main karpet puzzle dirumah, dan ternyata yang diperlombakan memang yang seperti itu. Tapi kami tidak mengharapkan kemenangan, semua asal para kurcaci ini bahagia.

Tiba dikantor, ternyata pesertanya membludak. Amat sangat banyak, sehingga lombanya terlambat. Jadi agak siang. Para kurcaci sudah bete. Akibatnya, Iffah mogok ikut lomba puzzle. Puzzle-nya dicuekin aja. Padahal puzzle seperti itu mainannya sehari-hari dirumah. Setelah itu ketahuan, dia mogok lomba karena ingin pop ice bubble yang dijual dekat situ. Lagian, si Abang jualan dekat tempat lomba....heheheh....

Kalau Faqih, sempat bete. Tapi, karena melihat suasana ramai, naluri penjelajahnya muncul. Jalan kesana-kemari. Lomba mencari ibu dibagi tiga babak: penyisihan, semi final, dan final. Dari tiap babak sebelum final, diambil 3 anak untuk bertanding di final. Di penyisihan, Faqih menduduki tempat ketiga. Kemudian di semi final, peringkat 1 di penyisihan bertanding dengan sesama peringkat 1, begitu juga untuk peringkat 2 dan 3. Lagi-lagi Faqih menduduki peringkat 3 dan berhak maju ke final. Di final, 9 anak finalis bertanding bersama-sama. Alhamdulillah, lagi-lagi Faqih jadi juara 3. Lumayan, dapat piala dan leggo.

Sisi lain dari lomba anak ini adalah kerepotan orang tua. Teman saya ada yang membawa keempat orang anaknya. Banyak pula yang membawa keluarga lengkap dengan pengasuh-pengasuhnya. Ditempat lomba, ada yang membawa dua anak dengan masing-masing seorang pengasuh. Saya yang hanya membawa 2 kurcaci saja, persiapannya sudah sejak sebelum shubuh. Tidak salah, ada seorang kawan yang mengatakan: "Untung Hari Anak Nasional setahun sekali".

duduk dihalaman 17:58


02 July 2004

Doakan saja, Kawan

Hari Ahad kemarin, Faqih b-a-b beberapa kali. Hari Senin pagi, dibawa kedokter anak. Diberi obat dan pesan kalau b-a-b nya lebih dari enam kali, segera dibawa ke rumah sakit, khawatir dehidrasi. Senin itu, sampai malam, dia b-a-b tujuh kali. Tapi, tidak ada tanda-tanda kalau dia sakit. Dia tetap terlihat ceria dan bermain dengan lincah. Tidak lemah dan lemas. Selasa, dari pukul 03.30 sampai 07.00, Faqih sudah lima kali b-a-b, bahkan dua yang terakhir hanya air yang keluar. Diputuskan untuk membawa ke rumah sakit. Ada dua alternatif, yang dekat atau yang agak jauh. Yang dekat, rumah sakit swasta dengan fasilitas bagus, tapi mensyaratkan safe deposit sebelum masuk yang jumlahnya lumayan, bahkan untuk kelas 3 sekalipun. Saat itu kami tidak pegang uang. Uang yang ada sudah kami pakai untuk perbaikan rumah beberapa hari sebelumnya. Cari pinjaman pun saat itu tidak sampai untuk menutupi safe deposit. Yang agak jauh, rumah sakit pemerintah dengan fasilitas dan pelayanan yang tahu sendirilah. Akhirnya diputuskan, mengingat kondisi keuangan, untuk membawa ke rumah sakit pemerintah, yang agak jauh.

Maka pergilah kami berempat naik motor kesana. Tiba disana Faqih masuk Instalasi Gawat Darurat dan kemudian disarankan untuk rawat inap. Kemudian saya mengurus administrasi dan memperoleh perlakuan yang tidak mengenakkan dari petugas disana. Memang saya belum pernah mendaftar disana, tapi itu bukan alasan untuk diperlakukan seenaknya dan tidak sopan. Apa lagi kondisi psikologis, terutama yang membawa pasien gawat darurat, sedang tidak bagus. Apalagi saat kesana saya sambil mengurus Iffah. Sempat kesabaran saya habis dan bersuara agak keras dan tegas, baru dia diam. Seharusnya, untuk petugas dirumah sakit, bila tidak bisa berempati atau bersimpati, tidak usah menambah beban pasien dan keluarganya dengan perlakuan tidak enak dan tidak pada tempatnya. Apalagi rumah sakit pemerintah. Mereka sudah dibayar oleh rakyat untuk melayani rakyat. Toh, saya kesanapun membayar.

Setelah itu Faqih diinfus. Pergelangan tangannya diikat kayu agar tidak bergerak. Masuk ke ruangan rawat, Faqih menjadi pasien paling segar. Selalu bermain-main. Merasa ada yang aneh dengan tangannya (seperti ada pemukul nempel hehehe...), dia pukul kesana-sini hingga menjadi ramai. Selain paling segar, juga paling bandel. Tidak pernah mau diukur suhu di ketiak. Mungkin dia rasa geli. Waktu malam, sebagian besar pasien anak lain rewel, dia tidur dengan nyenyak. Alhamdulillah, besoknya Faqih boleh pulang setelah menghabiskan tiga botol infus. Sekarang dia kembali kerumah dan sedang menjalani masa pemulihan.

Doakan saja kawan, mudah-mudahan dia cepat sembuh dan sehat seperti sedia kala.

duduk dihalaman 14:24