Halaman Mungil Penuh Cinta dan Harap

Sebuah halaman dapat memperindah sebuah rumah, begitu juga sebaliknya, halaman dapat membuat rumah menjadi tampak buruk. Halaman ini diharapkan akan memperindah sebuah rumah mungil yang damai dengan cinta dan harapnya. Cinta yang bersumber dan didedikasikan pada DIA yang penuh cinta. Harap akan abadinya cinta itu hingga di jannah NYA kelak.

Detak kalA


Bahagia di halamaN

Saya, seorang manusia biasa diawal tiga dasawarsa yang dipanggil abi oleh anak-anak yang lucu: afifah hamasatunnisa, yang disebut dan menyebut dirinya dengan kakak atau iffah, lahir di bogor 4 desember 2001, ahmad alfaqih yang dipanggil Aa' atau faqih, lahir di bogor 13 april 2003, Aqil Abdurrahman, lahir di bogor 23 Januari 2005, yang menyebut dirinya sendiri ,dan kami ikuti, dengan sebutan Baba, serta Ahmad Yasin, lahir di Bogor, 10 Januari 2005, yang biasa kami panggi Acin atau Dede'. Beristrikan seorang wanita shalihah yang dipanggil ummi oleh kedua orang anaknya.


Setetes embuN

by wdcreezz.com

Nama :

Email/URL :

Kata :



Halaman tetanggA

puji balq gre lies rahman ihsan dee ami viTa adhi abu abdurrahman tyas iinanto hendra singarinjani otty diah assa_solo arifiani braunschweiger swasmi t.w. iman bril linda hidayat nikeyudi keluarga izza uyet bagas atta abhiray dey dita *)Iin adionggo ochan aisya hanum ARS dina erwin hanan ine

Embun segaR

Keajaiban Al-Qur'an Pusat Konsultasi Syariah Partai Keadilan Sejahtera Pusat Informasi Palestina Tempo Interaktif Detik Hidayatullah Media Indonesia Republika Era Muslim

Obrolan tetanggA


Kebun bungA

September 2003
November 2003
January 2004
February 2004
March 2004
April 2004
May 2004
June 2004
July 2004
August 2004
September 2004
October 2004
November 2004
December 2004
January 2005
February 2005
March 2005
May 2005
June 2005
September 2005
January 2006
February 2006
March 2006
April 2006
May 2006
September 2006
December 2006
January 2007
February 2007
May 2007
June 2009
May 2011

Pencinta alamI

Free Web Page Hit Counters
Sejak 11 Mei 2005



Tukang kebuN

 Blognya Indonesian Muslim Blogger�E BlogFam Community

19 July 2004

Subhanallah.

Ahad malam kemarin, seperti biasa ada pengajian di Masjid Alkautsar dekat rumah. Ustadznya baru pulang dari memimpin jamaah umrah dan ziarah ke Istambul, Turki. Beliau menceritakan tentang sebuah masjid yang dibangun 4 abad lampau. Masjid itu diarsiteki oleh seorang arsitek bernama Sinan. Dari kisah yang dipaparkan, bisa terlihat betapa telitinya dia. Pada saat akan membangun, Sinan menghilang. Datang 6 bulan kemudian. Ternyata, dia menghilang bukan sekedar menghilang begitu saja, tetapi dengan tujuan untuk menunda pembangunan masjid itu, agar terhindar dari gempa bumi yang datangnya sudah diperkirakan. Masjid itu lebih besar dari Masjid Istiqlal, begitu juga kubahnya. Ternyata, kubah masjid itu bukan sekedar hiasan, tetapi juga merupakan penopang konstruksi yang tahan gempa. Ventilasi sudah diatur sedemikian rupa. Hingga selain tetap sejuk, bisa mengatur arah angin agar bisa membawa sampah-sampah kecil dan ringan ke satu ruangan tertentu. Begitu juga dengan asap sisa pembakaran lampu minyak. Penerangan pada masa itu menggunakan lampu minyak yang berbahan bakar minyak zaitun. Pembakaran minyak zaitun ini menghasilkan asap yang hitam. Tetapi, tembok masjid tetap bersih karena semua asap langsung terbawa oleh angin menuju suatu ruangan khusus. Disana, asap berkumpul dan menempel di dinding khusus dan menghasilkan jelaga berwarna hitam. Jelaga hasil asap pembakaran lampu minyak ini kemudian dikumpulkan dan diolah untuk menjadi tinta. Dari sini dihasilkan 2 macam tinta. Tinta yang pertama digunakan untuk menulis sehari-hari. Tinta yang kedua disebut "tinta suci", karena sebelum digunakan, tinta ini dibawa dulu ke tanah suci (Masjidil Haram), dan hanya digunakan untuk menulis mushaf Al-qur'an dan hadits-hadits Rasulullah saw. Begitu besar penghormatan mereka kepada Al-qur'an dan As-sunnah. Subhanallah. Didalam masjid itu juga tidak pernah ada sarang laba-laba. Rupanya, ketika pembangunan masjid, salah satu bahan pencampur adukannya adalah telur burung Onta. Selain itu juga, digantung di beberapa tempat, tentunya dengan wadah yang indah, kulit telur burung onta yang rupanya ditakuti laba-laba. Untuk mengatur suara (pada saat itu belum ada sound system), ada bilik-bilik tempat orang mengulang perkataan imam atau khatib di beberapa tempat. Selain itu, semua suara sudah diatur sedemikian rupa supaya naik ke atas kubah sebelum memantul kebawah. Dibawah kubah dipasang semacam gentong besar yang besar dibagian bawahnya yang berfungsi sebagai corong suara, sehingga menghasilkan efek suara. Semua fungsi dan ketelitian ini berpadu dengan keindahan yang menghasilkan satu kata: Subhanallah.

duduk dihalaman 16:22