Halaman Mungil Penuh Cinta dan Harap

Sebuah halaman dapat memperindah sebuah rumah, begitu juga sebaliknya, halaman dapat membuat rumah menjadi tampak buruk. Halaman ini diharapkan akan memperindah sebuah rumah mungil yang damai dengan cinta dan harapnya. Cinta yang bersumber dan didedikasikan pada DIA yang penuh cinta. Harap akan abadinya cinta itu hingga di jannah NYA kelak.

Detak kalA


Bahagia di halamaN

Saya, seorang manusia biasa diawal tiga dasawarsa yang dipanggil abi oleh anak-anak yang lucu: afifah hamasatunnisa, yang disebut dan menyebut dirinya dengan kakak atau iffah, lahir di bogor 4 desember 2001, ahmad alfaqih yang dipanggil Aa' atau faqih, lahir di bogor 13 april 2003, Aqil Abdurrahman, lahir di bogor 23 Januari 2005, yang menyebut dirinya sendiri ,dan kami ikuti, dengan sebutan Baba, serta Ahmad Yasin, lahir di Bogor, 10 Januari 2005, yang biasa kami panggi Acin atau Dede'. Beristrikan seorang wanita shalihah yang dipanggil ummi oleh kedua orang anaknya.


Setetes embuN

by wdcreezz.com

Nama :

Email/URL :

Kata :



Halaman tetanggA

puji balq gre lies rahman ihsan dee ami viTa adhi abu abdurrahman tyas iinanto hendra singarinjani otty diah assa_solo arifiani braunschweiger swasmi t.w. iman bril linda hidayat nikeyudi keluarga izza uyet bagas atta abhiray dey dita *)Iin adionggo ochan aisya hanum ARS dina erwin hanan ine

Embun segaR

Keajaiban Al-Qur'an Pusat Konsultasi Syariah Partai Keadilan Sejahtera Pusat Informasi Palestina Tempo Interaktif Detik Hidayatullah Media Indonesia Republika Era Muslim

Obrolan tetanggA


Kebun bungA

September 2003
November 2003
January 2004
February 2004
March 2004
April 2004
May 2004
June 2004
July 2004
August 2004
September 2004
October 2004
November 2004
December 2004
January 2005
February 2005
March 2005
May 2005
June 2005
September 2005
January 2006
February 2006
March 2006
April 2006
May 2006
September 2006
December 2006
January 2007
February 2007
May 2007
June 2009
May 2011

Pencinta alamI

Free Web Page Hit Counters
Sejak 11 Mei 2005



Tukang kebuN

 Blognya Indonesian Muslim Blogger�E BlogFam Community

10 August 2004

Motor

Inilah dia kereta beroda dua
kuda tunggangan terbaik milik kita
melaju dengan kecepatan sahaja
buatan pabrik dua windu dulu kala
........


Sepenggal nasyid dari Suara Persaudaraan itu senantiasa membuat kami tersenyum, karena mengingatkan tentang motor-motor yang pernah kami miliki. Pertama kali bekerja dan menetap di Palopo dulu, saya dan kawan-kawan memilih menggunakan sepeda sebagai sarana transportasi kami. Palopo kota kecil. Mobil jarang. Motor lumayan. Becak banyak. Saya memilih sepeda kumbang (ingat sepeda Omar Bakri) buatan Cina. Murah, tapi enteng sekali kalau dibawa, padahal bahan pembuatnya cukup berat. Tapi, satu persatu kawan mengganti sepeda dengan motor. Saya termasuk yang terakhir mengganti dengan motor. Kurang lebih 1,5 tahun saya bersama sepeda itu.

Motor pertama saya dibeli dari teman sekantor. Sebuah motor tua yang "antik". Bagaimana tidak "antik", gas saja di rem depan. Jadi, kalau ngegas seperti menarik rem depan :D. Saya beli hanya dengan harga, jangan kaget, 350 ribu. Motonya Suzuki A100 tahun 79. STNK-nya masih atas nama Kantor Pos Ujung Pandang. Iya, itu motor bekas pengantar surat. Diawal saya miliki, saya pertahankan warna oranye motor pos-nya. Sampai suatu ketika, ketika main ke kost-kostan kawan, pemilik rumah menyuruh anaknya yang masih kecil untuk mengambil surat. Dikiranya saya tukang pos :D. Sejak itu terpikir untuk ganti warna. Akhirnya beli pylox sendiri dan dipylox hitam tankinya. Wong bodinya ancur, nggak usah bagus-baguslah. Semenjak beli, cukup banyak biaya yang saya keluarkan untuk motor ini. Sebagian besar untuk ngedandanin mesin. Lampu depan saya belikan yang bulat. Kemudian spion dibelikan yang pernekel. Begitu juga jok dan pelek. Knalpot saya ganti yang standar A100 baru. Sampai-sampai banyak kawan yang bilang, bagian paling indah dari motor itu adalah lampu, spion, dan knalpot. Satu "aksesoris" unik dari motor ini adalah kantong plastik untuk membawa botol krating daeng yang berisi oli samping. Harus selalu siap, karena motor ini menggunakan bensin campur. Kalau isi bensin, kadang diketawain orang. Paling saya bilang, "Memulihkan stamina yang loyo..". Cukup lama saya pakai motor ini. Sekitar 3 tahun, sampai saya pindah dari sana. Cukup berat untuk meninggalkan motor ini. Sudah terlanjur sayang. Tapi kalau dibawa, mungkin ongkos kirimnya tidak sepadan dengan nilai motornya :D. Selain itu, kasihan dia, khawatir tidak mampu bersaing kalau di Bandung :D. Akhirnya, motor itu saya jual ke kawan di kantor yang baru kehilangan motornya, dengan harga 600 ribu saja.

Pindah ke Bandung, saya kemana-mana menggunakan motor Babeh. Motor ini jarang digunakan di rumah. Babeh orangnya cukup unik. Kalau sudah punya barang, tidak mau diganti dengan yang baru. Begitu juga motornya. Motornya Vespa Super tahun 77. Lebih tua dikit dari adik saya. Selama setahun saya terus yang menggunakan kemana-mana. Yang cukup merepotkan dari Vespa ini adalah bensinnya yang boros dan kalau sudah ban-nya bocor, tidak bisa jalan lagi. Alhamdulillah, selama menggunakan motor ini baru sekali mengalami ban bocor. Oh, iya, sampai menggunakan vespa ini saya tidak pernah punya SIM. Malas saja bikinnya. Malas harus nyogok2nya. Tapi, Alhamdulillah, belum pernah kena tilang. Kalau di Palopo, selagi musim tilang, saya batasi penggunaan motor. Andaikata harus ke kantor, saya pilih jalan di pinggiran yang sekiranya selamat. Begitu juga di Bandung, cari jalan tikus. Tapi, beberapa kali juga bertemu razia, termasuk yang besar-besaran. Tapi, Alhamdulillah, motor Vespa rupanya jarang kena razia. Kasihan mungkin ngeliat motornya:D.

Ketika saya harus pindah ke Citeureup, berpisahlah saya dengan Vespa itu. Sampai akhirnya saya harus kuliah lagi. Ada 2 opsi pada saat itu. Kita pindah atau saya yang bolak balik. Letak kampus cukup jauh. Sekitar 50 km (Citeureup-Bintaro). Akhirnya kami memilih opsi bolak-balik, karena sudah sangat betah di rumah. Susah menemukan lingkungan yang enak. Dan untuk menghemat ongkos, kami putuskan untuk beli motor, yang kira-kira kuat. Akhirnya setelah cari-cari, dapat motor GL100 tahun 89. Lumayan bandel juga motor ini. Citeureup Bintaro bisa ditempuh selama 1 seperapat jam (paling cepat pernah saya dapat) - 2 jam (dengan macetnya). Untuk menempuh jarak ini, saya bikin SIM. Alhamdulillah, bisa bikin dengan cara normal, ikuti semua tes, tapi baru kelar 2 hari, dengan sedikit marah-marah :).

Sekarang motor ini masih kami miliki, tapi sudah lama tidak dipakai, semenjak adik ipar menitipkan motor barunya pada kami. Ternyata ada kenikmatan yang tidak didapatkan dari motor baru, yaitu rasa aman ketika memarkirnya, dimana saja.

duduk dihalaman 06:33