ADAM AIR? Nggak Lagi Deh!
Tadi malam, berita di TV7, beberapa penumpang marah-marah di Bandara terhadap petugas dari maskapai penerbangan Adam Air. Saya tidak terlalu menyimak apa penyebabnya. Berita ini mengingatkan saya terhadap pengalaman tidak mengenakkan saya dengan Adam Air sekitar sebulan lalu.
Hari itu, 20 Desember 2005 (tepat saat ulang tahun Adam Air!), saya sudah mendapatkan tiket untuk terbang ke Palembang, untuk perjalanan dinas bersama seorang kawan, dengan Adam Air. Pesawat dijadwalkan terbang dari Bandara Sukarno-Hatta pukul 07.15, dan di tiket sudah ditetapkan batas terakhir untuk check in adalah 45 menit sebelum pesawat berangkat; berarti pukul 06.30. Saya memang agak terlambat datang ke Bandara, tapi masih dalam batas waktu check in.
Keanehan pertama saya temui ketika masuk ke bandara dan mencari di deretan meja check in Adam Air, sudah tidak ada tulisan untuk jurusan Palembang. Padahal saat itu belum lagi pukul 06.30. Melihat kami memegang tiket Adam Air sambil kebingungan, seorang petugas Adam Air menanyakan tujuan kami. Setelah kami menyebutkan tujuan, saya merasakan kembali keanehan kedua ketika dia langsung meminta tiket kami dan segera melihat jam di bandara, dan segera menuliskan 06.28 (waktu bandara saat itu) dan kemudian meminta kami untuk menunggu sebentar. Keanehan yang saya rasakan semakin besar, dan akhirnya menimbulkan kecurigaan bahwa ada sesuatu yang tidak beres, ketika saya lihat petugas itu berbincang cukup serius dengan seseorang yang membawa HT. Kemudian dia dan petugas yang membawa HT, yang saya duga adalah orang yang bertanggungjawab di meja check ini itu mendatangi kami.
Yang terjadi selanjutnya, kecurigaan saya menemukan jawabannya. Orang yang membawa HT itu mengatakan bahwa sheet untuk ke Palembang tinggal satu! Tentu saja kami tidak bisa menerima, tapi kami tetap tenang dalam berargumen. Orang itu menerangkan, bahwa pesawat yang ke Palembang di ganti jenisnya sehingga kapasitasnya berkurang. Sebuah alasan yang tidak masuk akal, dan tentu saja kami tidak percaya. Ganti pesawat jenis apa yang berkurangnya cuma satu sheet?
Setelah berdebat beberapa saat, orang itu tetap berkeras untuk hanya bisa membawa satu orang saja diantara kami, dan dia akan mencarikan satu orang lagi tiket di masakapai penerbangan lain. Kawan saya menduga, kemungkinan sheet itu telah dijual di bandara, yang tentu saja harganya lebih tinggi dari pada tiket yang kami dapatkan dengan price yang paling murah. Jadi, untung dua kali. Dari selisih harga tiket kami dan harga tiket murah sesama maskapai penerbangan di Bandara. Akhirnya, karena waktu semakin mendesak, sementara tugas di Palembang harus dikerjakan hari itu juga, kami mengalah dengan saya berangkat duluan, sementara kawan saya pasrah untuk diusahakan tiket maskapai penerbangan lain, dan yang terdekat adalah Sriwijaya Air yang akan terbang pukul 08.30, yang kami tahu harga tiket untuk umumnya lebih murah dari Adam Air.
Jadilah saya boarding duluan. Dan kekecewaan terhadap Adam Air bertambah, karena penerbangan terlambat dari waktu yang dijadwalkan. Bahkan ketika sudah meninggalkan tempat parkir, dan pramugari telah memeragakan cara memakai pelampung, pesawat masih kembali ke tempat parkir, karena ada masalah teknis. Alhasil saya tiba di Palembang tidak berselisih jauh dengan kawan yang akhirnya berhasil mendapatkan tiket Sriwijaya Air pukul 08.30, dengan kawan tersebut mendapat snack dari Sriwijaya Air, sedangkan saya hanya mendapatkan segelas air kemasan Cap Adam Air.
Setelah peristiwa itu, kalau saya harus melakukan penerbangan lagi, kalau bisa jangan Adam Air deh.