Halaman Mungil Penuh Cinta dan Harap

Sebuah halaman dapat memperindah sebuah rumah, begitu juga sebaliknya, halaman dapat membuat rumah menjadi tampak buruk. Halaman ini diharapkan akan memperindah sebuah rumah mungil yang damai dengan cinta dan harapnya. Cinta yang bersumber dan didedikasikan pada DIA yang penuh cinta. Harap akan abadinya cinta itu hingga di jannah NYA kelak.

Detak kalA


Bahagia di halamaN

Saya, seorang manusia biasa diawal tiga dasawarsa yang dipanggil abi oleh anak-anak yang lucu: afifah hamasatunnisa, yang disebut dan menyebut dirinya dengan kakak atau iffah, lahir di bogor 4 desember 2001, ahmad alfaqih yang dipanggil Aa' atau faqih, lahir di bogor 13 april 2003, Aqil Abdurrahman, lahir di bogor 23 Januari 2005, yang menyebut dirinya sendiri ,dan kami ikuti, dengan sebutan Baba, serta Ahmad Yasin, lahir di Bogor, 10 Januari 2005, yang biasa kami panggi Acin atau Dede'. Beristrikan seorang wanita shalihah yang dipanggil ummi oleh kedua orang anaknya.


Setetes embuN

by wdcreezz.com

Nama :

Email/URL :

Kata :



Halaman tetanggA

puji balq gre lies rahman ihsan dee ami viTa adhi abu abdurrahman tyas iinanto hendra singarinjani otty diah assa_solo arifiani braunschweiger swasmi t.w. iman bril linda hidayat nikeyudi keluarga izza uyet bagas atta abhiray dey dita *)Iin adionggo ochan aisya hanum ARS dina erwin hanan ine

Embun segaR

Keajaiban Al-Qur'an Pusat Konsultasi Syariah Partai Keadilan Sejahtera Pusat Informasi Palestina Tempo Interaktif Detik Hidayatullah Media Indonesia Republika Era Muslim

Obrolan tetanggA


Kebun bungA

September 2003
November 2003
January 2004
February 2004
March 2004
April 2004
May 2004
June 2004
July 2004
August 2004
September 2004
October 2004
November 2004
December 2004
January 2005
February 2005
March 2005
May 2005
June 2005
September 2005
January 2006
February 2006
March 2006
April 2006
May 2006
September 2006
December 2006
January 2007
February 2007
May 2007
June 2009
May 2011

Pencinta alamI

Free Web Page Hit Counters
Sejak 11 Mei 2005



Tukang kebuN

 Blognya Indonesian Muslim Blogger�E BlogFam Community

28 March 2006

Aqil di Rumah Sakit

Ah, pekan-pekan yang melelahkan baik fisik maupun psikis.

Pekan lalu, selama lima hari, Aqil harus dirawat di rumah sakit. Tubuh mungil itu sudah menunjukkan tanda-tanda dehidrasi yang mulai mengkhawatirkan, setelah empat hari mengalami diare. Bola mata selalu melihat keatas. Menangis terus tak bisa diam. Bahkan, setibanya di rumah sakit sekitar sebelum Ashar, sempat seperti hilang kesadaran. Dia seperti tidak mengenali Ummi lagi. Alhamdulillah, setelah cairan infus mulai masuk, keadaan perlahan berubah. Barulah menjelang maghrib mulai "menyatu" dengan lingkungan sekitar dan mengenal orang-orang disekelilingnya.

Selama lima hari di rumah sakit, kami menunggui. Tidak bisa hanya Ummi, apalagi saya sendiri, karena banyak hal yang harus dilakukan disana. Seperti menebus resep, mengurus administrasi dan lain-lain. Sementara, Aqil tidak bisa ditinggal sendiri. Titip perawat? I'm not so sure. Perawat disana tidak banyak dan kadang-kadang lebih seperti guru disekolah ketimbang perawat. Terpaksa kakak-kakaknya dititipkan ke tantenya, itupun kalau siang dititipkan kepada tantenya yang lain, yang juga bertetangga, dan anak-anaknya masih kecil pula.

Dua hari di rumah sakit, Ummi kangen pada Iffah dan Faqih. Jadilah ketika pulang untuk menyimpan pakaian kotor, saya bawa mereka berdua, yang juga kangen pada Ummi dan adiknya. Peraturan di rumah sakit melarang anak-anak dibawah 13 tahun untuk masuk ke area perawatan. Jadilah kami tertahan oleh satpam di gerbang, selain karena belum jam besuk, juga aturan tadi. Untunglah satpam di gerbang depan menunjukkan pintu lain yang lebih dekat ke ruang perawatan anak. Tapi, di gerbang ini kami berhadapan dengan satpam yang tidak ramah dan "sok galak". Sekedar menitipkan anak duduk di bangku panjang yang didudukinya, ketika saya akan kedalam mengantar pakaian dan bergantian menjaga Aqil dengan Ummi pun dia menjawab dengan kasar. "Disini bukan penitipan anak!!" sergahnya dengan kasar. Terpaksalah kedua balita tersayang saya tinggal di gerbang dan saya berlari untuk bergantian dengan Ummi. Peraturan ditegakkan amatlah bagus. Tapi harusnya konsisten, dan apakah menegakkan aturan harus dengan amarah dan ketidakramahan? Seharusnya, semua petugas di rumah sakit, baik medis maupun non-medis, dilatih untuk bersikap ramah, karena mereka berhubungan dengan pasien dan keluarganya yang sedang tertimpa musibah. Kalau tidak bisa memberikan simpati, jangan sampai menambah berat beban pasien dan keluarga pasien dengan ketidakramahan.

Setelah lima hari dirawat, semua kondisi Aqil normal, kecuali suhu tubuhnya yang stabil selalu sedikit diatas normal. Untuk mencari tahu, dilakukan tes darah dan foto rontgen. Hasil tes darah bisa diketahui dalam dua jam, dan semuanya normal. Tapi untuk rontgen, karena hari itu Sabtu, baru bisa diketahui dua hari kemudian. Untuk itu, dokter masih menyarankan dirawat. Tapi, kami berusaha untuk pulang hari itu. Kasihan Iffah dan Faqih. Selama kami tinggal seperti anak ayam kehilangan induk. Untuk urusan makan, mandi, dan kebutuhan fisik lain, bisa dibantu oleh keluarga tantenya. Tapi, secara psikis, mereka sepertinya mengalami sedikit gangguan. Laporan dari tantenya, selama ditinggal mereka "dewasa" dan tidak rewel. Tapi kalau saya pulang untuk mengambil dan menyimpan pakaian, kelihatan sekali kalau mereka kehilangan. Iffah biasa langsung minta gendong dan tidak mau turun. Faqih selalu melarang saya untuk kembali ke rumah sakit. Sampai kini pun, akibat itu masih terasa. Faqih jadi suka ngompol di mana saja. Padahal sebelumnya tidak. Iffah, menjadi sangat cengeng. Mudah-mudahan mereka bisa kembali seperti sebelumnya. Jadilah kami pulang dengan menandatangani surat pernyataan untuk pulang, atau istilah mereka "Pulang Paksa".

Alhamdulillah, Aqil kini sudah jauh lebih baik. Dari hasil rontgen diketahui, ada sedikit peradangan di paru-paru. Mohon do'a untuk kesembuhannya, juga kakak-kakaknya.

duduk dihalaman 12:48