Halaman Mungil Penuh Cinta dan Harap

Sebuah halaman dapat memperindah sebuah rumah, begitu juga sebaliknya, halaman dapat membuat rumah menjadi tampak buruk. Halaman ini diharapkan akan memperindah sebuah rumah mungil yang damai dengan cinta dan harapnya. Cinta yang bersumber dan didedikasikan pada DIA yang penuh cinta. Harap akan abadinya cinta itu hingga di jannah NYA kelak.

Detak kalA


Bahagia di halamaN

Saya, seorang manusia biasa diawal tiga dasawarsa yang dipanggil abi oleh anak-anak yang lucu: afifah hamasatunnisa, yang disebut dan menyebut dirinya dengan kakak atau iffah, lahir di bogor 4 desember 2001, ahmad alfaqih yang dipanggil Aa' atau faqih, lahir di bogor 13 april 2003, Aqil Abdurrahman, lahir di bogor 23 Januari 2005, yang menyebut dirinya sendiri ,dan kami ikuti, dengan sebutan Baba, serta Ahmad Yasin, lahir di Bogor, 10 Januari 2005, yang biasa kami panggi Acin atau Dede'. Beristrikan seorang wanita shalihah yang dipanggil ummi oleh kedua orang anaknya.


Setetes embuN

by wdcreezz.com

Nama :

Email/URL :

Kata :



Halaman tetanggA

puji balq gre lies rahman ihsan dee ami viTa adhi abu abdurrahman tyas iinanto hendra singarinjani otty diah assa_solo arifiani braunschweiger swasmi t.w. iman bril linda hidayat nikeyudi keluarga izza uyet bagas atta abhiray dey dita *)Iin adionggo ochan aisya hanum ARS dina erwin hanan ine

Embun segaR

Keajaiban Al-Qur'an Pusat Konsultasi Syariah Partai Keadilan Sejahtera Pusat Informasi Palestina Tempo Interaktif Detik Hidayatullah Media Indonesia Republika Era Muslim

Obrolan tetanggA


Kebun bungA

September 2003
November 2003
January 2004
February 2004
March 2004
April 2004
May 2004
June 2004
July 2004
August 2004
September 2004
October 2004
November 2004
December 2004
January 2005
February 2005
March 2005
May 2005
June 2005
September 2005
January 2006
February 2006
March 2006
April 2006
May 2006
September 2006
December 2006
January 2007
February 2007
May 2007
June 2009
May 2011

Pencinta alamI

Free Web Page Hit Counters
Sejak 11 Mei 2005



Tukang kebuN

 Blognya Indonesian Muslim Blogger�E BlogFam Community

17 May 2006

Berhenti Merokok


Susahkah berhenti merokok? Bisa ya, bisa juga tidak. Buat yang sudah berhasil mungkin jawabannya tidak. Tapi, buat yang sudah mencoba dan masih gagal, mungkin jawabannya ya. Atau mungkin, jawaban yang lebih tepat: tergantung. Tergantung apa? Ya, tergantung gantunggannya. Baiklah, apapun jawabannya, saya cuma ingin menceritakan pengalaman berhenti merokok. Bukan berbagi tips, karena mungkin cara ini cuma cocok untuk saya. Hanya cerita saja.

Perkenalan saya dengan rokok diawali dari pergaulan di bangku SMA. Banyak teman sekelas sejak kelas 1 yang merokok. Saya saat itu belum tertarik. Tidak seperti kisah-kisah sinetron, tidak pernah ada yang mengejek saya karena itu. "Keisengan" saya kala itu hanya sebatas belajar menyalakan rokok teman, yang oleh teman saya selalu ditertawakan karena hasilnya selalu basah di bagian filter :). Saya tidak berani lebih dari itu, apalagi kalau diketahui kedua orang tua, karena belum genap setahun terlewati masa perawatan rumah sakit karena penyakit Pneumonia.

Masuk kelas dua, menjadi semakin minoritas di kelas. Dari sekitar 30-an anak lelaki sekelas, paling hanya lima orang yang tidak merokok, dengan saya masih salah satunya. Terpapar asap rokok setiap hari, membuat saya berfikir untuk berhenti menjadi perokok pasif dan berpindah menjadi perokok aktif. Halah, alasan lagi. Sok ilmiah :) Dan niat itu saya realisasikan di akhir kelas dua, ketika bersama teman-teman sekelas pergi camping.

Di awal, tekadnya adalah hanya merokok kalau tidak beli sendiri, alias tanpa modal. Tapi jeratan nikotin ternyata cukup kuat. Kemudian mulai beli satu-dua batang, dengan tekad tidak beli setengah bungkus, apalagi sebungkus. Akhirnya tekad itu dilanggar satu-satu, dan kebiasaan merokok semakin menjadi-jadi ketika saya kuliah ke luar kota dan tinggal terpisah dari keluarga. Sampai pernah pada kondisi lebih baik mengurangi jatah makan daripada mengurangi jatah rokok.

Di kampus ini pula saya mulai mengenal Islam lebih baik. Ketika mulai bergaul dengan aktivis Islam, mulai muncul perasaan risih untuk terus merokok. Di kampus pun, perokok menjadi minoritas. Saya juga sering mengikuti pengajian tafsir Jalalain yang dibawakan oleh Habib Seggaf bin Mahdi bin Syaikh Abu Bakar. Dalam salah satu kajiannya, beliau menyinggung masalah rokok, dan memberikan kesimpulan bahwa merokok adalah perbuatan haram. Sejak itu, muncul keinginan yang kuat untuk berhenti merokok.

Tidak lama setelah itu, masuk Ramadhan. Pas, ada keinginan berhenti, pas bulan Ramadhan. Nyaris selama Ramadhan itu saya tidak merokok sama sekali. Hanya di akhir-akhir Ramadhan, ketika libur kuliah dan pulang ke rumah, saya kembali merokok ketika bertemu kawan-kawan lama. Itu pun hanya sekitar dua batang. Selepas itu, saya benar-benar berhenti merokok.

Dari situ, saya merasa, yang membuat saya berhenti merokok ada tiga hal:
1. Faktor eksternal, berupa motivasi yang kemudian memunculkan keinginan.
2. Faktor internal, berupa keinginan yang kuat untuk berhenti.
3. Momentum yang pas, berupa bulan Ramadhan, syahrul mubarak.

Mudah-mudahan bermanfaat :)

Gambar dari sini.

duduk dihalaman 09:14