Berhenti Merokok
Susahkah berhenti merokok? Bisa ya, bisa juga tidak. Buat yang sudah berhasil mungkin jawabannya tidak. Tapi, buat yang sudah mencoba dan masih gagal, mungkin jawabannya ya. Atau mungkin, jawaban yang lebih tepat: tergantung. Tergantung apa? Ya, tergantung gantunggannya. Baiklah, apapun jawabannya, saya cuma ingin menceritakan pengalaman berhenti merokok. Bukan berbagi tips, karena mungkin cara ini cuma cocok untuk saya. Hanya cerita saja.
Perkenalan saya dengan rokok diawali dari pergaulan di bangku SMA. Banyak teman sekelas sejak kelas 1 yang merokok. Saya saat itu belum tertarik. Tidak seperti kisah-kisah sinetron, tidak pernah ada yang mengejek saya karena itu. "Keisengan" saya kala itu hanya sebatas belajar menyalakan rokok teman, yang oleh teman saya selalu ditertawakan karena hasilnya selalu basah di bagian filter :). Saya tidak berani lebih dari itu, apalagi kalau diketahui kedua orang tua, karena belum genap setahun terlewati masa perawatan rumah sakit karena penyakit Pneumonia.
Masuk kelas dua, menjadi semakin minoritas di kelas. Dari sekitar 30-an anak lelaki sekelas, paling hanya lima orang yang tidak merokok, dengan saya masih salah satunya. Terpapar asap rokok setiap hari, membuat saya berfikir untuk berhenti menjadi perokok pasif dan berpindah menjadi perokok aktif.
Halah, alasan lagi. Sok ilmiah :) Dan niat itu saya realisasikan di akhir kelas dua, ketika bersama teman-teman sekelas pergi
camping.
Di awal, tekadnya adalah hanya merokok kalau tidak beli sendiri, alias tanpa modal. Tapi jeratan nikotin ternyata cukup kuat. Kemudian mulai beli satu-dua batang, dengan tekad tidak beli setengah bungkus, apalagi sebungkus. Akhirnya tekad itu dilanggar satu-satu, dan kebiasaan merokok semakin menjadi-jadi ketika saya kuliah ke luar kota dan tinggal terpisah dari keluarga. Sampai pernah pada kondisi lebih baik mengurangi jatah makan daripada mengurangi jatah rokok.
Di kampus ini pula saya mulai mengenal Islam lebih baik. Ketika mulai bergaul dengan aktivis Islam, mulai muncul perasaan risih untuk terus merokok. Di kampus pun, perokok menjadi minoritas. Saya juga sering mengikuti pengajian tafsir Jalalain yang dibawakan oleh Habib Seggaf bin Mahdi bin Syaikh Abu Bakar. Dalam salah satu kajiannya, beliau menyinggung masalah rokok, dan memberikan kesimpulan bahwa merokok adalah perbuatan haram. Sejak itu, muncul keinginan yang kuat untuk berhenti merokok.
Tidak lama setelah itu, masuk Ramadhan. Pas, ada keinginan berhenti, pas bulan Ramadhan. Nyaris selama Ramadhan itu saya tidak merokok sama sekali. Hanya di akhir-akhir Ramadhan, ketika libur kuliah dan pulang ke rumah, saya kembali merokok ketika bertemu kawan-kawan lama. Itu pun hanya sekitar dua batang. Selepas itu, saya benar-benar berhenti merokok.
Dari situ, saya merasa, yang membuat saya berhenti merokok ada tiga hal:
1. Faktor eksternal, berupa motivasi yang kemudian memunculkan keinginan.
2. Faktor internal, berupa keinginan yang kuat untuk berhenti.
3. Momentum yang pas, berupa bulan Ramadhan, syahrul mubarak.
Mudah-mudahan bermanfaat :)
Gambar dari
sini.