
Sudah bukan rahasia lagi, memperoleh SIM di Indonesia bukan berdasarkan keterampilan dan pengetahuan, tapi berdasarkan uang. Siapapun, walau tidak bisa mengendarai motor (mobil) bahkan anak kecil, asalkan memiliki uang, bisa mendapatkan SIM dengan mudah. Tidak heran pemilik SIM melimpah ruah seiring dengan melimpah ruahnya kendaraan yang membikin macet jalanan.
Sebaliknya, yang mendapatkan SIM dengan prosedur yang benar, walau ada, tapi tidak sebanding dengan yang lewat jalan pintas. Indikasi ini saya dapat ketika saya membuat SIM di Polwiltabes Kota B dulu. Saya ikuti semua tahapan, tapi ketika tahap akhir, untuk difoto, saya masih harus antri lama sekali, hampir seharian. Padahal, yang tes bareng sehari sebelumnya tidak sebanyak itu, sedikit malah. Malah kalau dilihat dari papan pengumuman yang lolos tes tulis saja (belum tes praktek), termasuk yang hari2 sebelumnya, tidak sebanyak itu. Sempat juga ketemu teman ketika antri foto, dia datang lebih belakang dari saya tapi foto duluan, dia mengaku lewat 'jalan pintas'.
Padahal, kalau prosedur pembuatan SIM dilakukan dengan benar, akan ada beberapa keuntungan (keuntungan yang benar tanpa tanda kutip, yang berarti kerugian buat oknum):
1. Mengurangi angka kecelakaan, karena hanya orang2 yang memiliki keterampilan dan pengetahuan lalu lintas saja yang lolos. Ketika saya melakukan tes tulis, ternyata tidak semuanya lulus. Ketika tes praktek, lebih banyak lagi yang tidak lulus. Ketika tes praktek dulu, saya memperoleh no. urut 4. Semua yang tes sebelum saya dinyatakan tidak lulus. Dua nomor setelah saya pun tidak lulus semua. Setelah itu tidak saya saksikan lagi. Esoknya, sambil menunggu giliran di foto, Dari 6 peserta tes yang saya saksikan, hanya satu yang lolos. Ternyata, banyak yang tidak lulus dari pada yang lulus.
2. Menghambat laju pertumbuhan pengemudi, karena untuk mendapat SIM tidak lah semudah sekarang, seperti bisa dilihat pada paparan diatas.
3. Efek berikutnya adalah akan mengurangi laju pertambahan kendaraan di jalan, karena laju jumlah pengemudi juga tertahan, yang akan mengurangi kemacetan dijalan. Selain karena itu, juga laju pertumbuhan kendaraan yang berasal dari oknum aparat juga akan tertahan, karena aparat berpangkat setingkat Serma kalau di ketentaraan (kalau polisi apa ya?), tidak akan mungkin punya Kijang Innova kalau mengandalkan gaji saja. Itu juga akan mengurangi jumlah kendaraan roda 4 dijalan (karena kalau dari gaji saja mungkin hanya akan memiliki roda 2, yang tidak memakan space sebanyak roda 4) :-).
Jadi, apabila sekarang muncul keruwetan lalu lintas, jangan lah langsung dituduh pengendara (terutama bikers) yang salah. Benahi dulu prosedur aparat, baru atur kami!!
Salam damai dari seorang Biker, yang mengendarai motor bukan sekedar untuk alat transportasi, tapi karena memang mencintainya.
Piss!!!
Gambar dari
sini.